Thursday, December 31, 2009

Teknik Dasar Pemanjatan / Rock Climbing

1. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga
yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki pemula
biasanya mempunytai kecenderungan untuk mempercayakan sebagian berat badannya pada
pegangan tangan, dan menempatkan badanya rapat ke tebing. Ini adalah kebiasaan
yang salah. Tangan manusia tidak bias digunakan untuk mempertahankan berat badan
dibandingkan kaki, sehingga beban yang diberikan pada tangan akan cepat melelahkan
untuk mempertahankan keseimbangan badan. Kecenderungan merapatkan berat badan ke
tebing dapat mengakibatkan timbulnya momen gaya pada tumpuan kaki. Hal ini
memberikan peluang untuk tergelincir.Konsentrasi berat di atas bidang yang sempit
(tumpuan kaki) akan memberikan gaya gesekan dan kestabilan yang lebih baik.
2. Friction / Slab Climbing
Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini
dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan
cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan
membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik
dan pembebanan maksimal diatas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik.
3. Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan yang seolaholah
berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan,
dikenal teknik-teknik berikut.
• Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar.
Jari-jari tangan, kaki, atau tangan dapat dimasukkan/diselipkan pada celah
sehingga seolah-olah menyerupai pasak.
• Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar (chomney). Badan
masuk diantara celah, dan punggung di salah satu sisi tebing. Sebelah kaki
menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke belakang. Kedua
tangan diletakkan menempel pula. Kedua tangan membantu mendororng keatas bersamaan
dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat badan.
• Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies).
Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah
tersebut. Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang
juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.
• Lay Back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan
kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung
miring sedemikian rupa untuk menenpatkan kedua kaki pada tepi celah yang
berlawanan. Tangan menarik kebelakang dan kaki mendorong kedepan dan kemudian
bergerak naik ke atas silih berganti.
Pembagian Pendakian Berdasarkan Pemakaian Alat
Free Climbing
Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalah
diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilan
yang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang benar. Pada free
climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam
pelaksanaanya ia bergerak sambil memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut
ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini
seorang pendaki diamankan oleh belayer.
Free Soloing
Merupakan bagian dari free climbing, tetapi sipendaki benar-benar melakukan dengan
segala resiko yang siap dihadapinya sendiri.Dalam pergerakannya ia tidak
memerlukan peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang
pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau pergerakan pada
rute yang dilalui. Bahkan kadang-kadang ia harus menghapalkan dahulu segala
gerakan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukan
free soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resiko
yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang
mampu dan benar-benar professional yang akan melakukannya.
Atrificial Climbing
Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti paku tebing, bor,
stirrup, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering
sekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau
peluang gerak yang memadai.
Sistem Pendakian
1. Himalaya Sytle
Sistem pendakian yang biasanya dengan rute yang panjang sehingga untuk mencapai
sasaran (puncak) diperlukan waktu yang lama. Sistem ini berkembang pada pendakianpendakian
ke Pegunungan Himalaya. Pendakian tipe ini biasanya terdiri atas
beberapa kelompok dan tempat-tempat peristirahatan (base camp, fly camp). Sehingga
dengan berhasilnya satu orang dari seluruh team, berarti pendakian itu sudah
berhasil untuk seluruh team.
2. Alpine Style
Sistem ini banyak dikembangkan di pegunungan Eropa. Pendakian ini mempunyai tujuan
bahwa semua pendaki harus sampai di puncak dan baru pendakian dianggap berhasil.
Sistem pendakian ini umumnya lebih cepat karena para pendaki tidak perlu lagi
kembali ke base camp (bila kemalaman bias membuat fly camp baru, dan esoknya
dilanjutkan kembali).
Teknik Turun / Rappeling
Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dikategorikan sebagai teknik yang
sepeuhnya bergantung dari peralatan. Prinsip rappelling adalah sebagai berikut :
1. Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.
2. Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai
pendorong gerak turun.
3. Menggunakan salah satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk
mengatur kecepatan.
Macam-macam dan Variasi Teknik Rappeling
1. Body Rappel
Menggunakan peralatan tali saja, yang dibelitkan sedemikian rupa pada badan. Pada
teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali sehingga bagian badan yang
terkena gesekan akan terasa panas.
2. Brakebar Rappe
Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, tali, dan brakebar. Modifikasi lain dari
brakebar adalah descender (figure of 8). Pemakaiannya hampir serupa, dimana gaya
gesek diberikan pada descender atau brakebar.
3. Sling Rappel
Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, dan tali. Cara ini paling banyak
dilakukan karena tidak memerlukan peralatan lain, dan dirasakan cukup aman. Jenis
simpul yang digunakan adalah jenis Italian hitch.
4. Arm Rappel / Hesti
Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan.
Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam.
Dalam rapelling, usahakan posisi badan selalu tegak lurus pada tebing, dan jangan
terlalu cepat turun. Usahakan mengurangi sesedikit mungkin benturan badan pada
tebing dan gesekan antara tubuh dengan tali. Sebelum memulai turun, hendaknya :
1. Periksa dahulu anchornya.
2. Pastikan bahwa tidak ada simpul pada tali yang dipergunakan.
3. Sebelum sampai ke tepi tebing hendaknya tali sudah terpasang dan pastikan
bahwa tali sampai ke bawah (ke tanah).
4. Usahakan melakukan pengamatan sewaktu turun, ke atas dan ke bawah, sehingga
apabila ada batu atau tanah jatuh kita dapat menghindarkannya, selain itu juga
dapat melihat lintasan yang ada.
5. Pastikan bahwa pakaian tidak akan tersangkut carabiner atau peralatan
lainnya.
Peralatan Pemanjatan
1. Tali Pendakian
Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkan
jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan
yang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian
dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader dan belayer masih dapat
berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10-11 mm, tapi sekarang
ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.
Ada dua macam tali pendakian yaitu :
• Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari berat
maksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Tali
static digunakan untuk rappelling.
• Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat
maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok
(merah, jingga, ungu).
2. Carabiner
Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yang
berfungsi seperni peniti. Ada 2 jenis carabiner :
• Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).
• Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)
3. Sling
Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi
sling antara lain :
- sebagai penghubung
- membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.
- Mengurangi gaya gesek / memperpanjang point
- Mengurangi gerakan (yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang.
4. Descender
Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan,
sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau
rappelling.
5. Ascender
Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila
dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.
6. Harnes / Tali Tubuh
Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis harnes :
• Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.
• Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.
Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung
dirakit oleh pabrik.
7. Sepatu
Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :
• Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat.
Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah.
• Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot.
Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gaya
tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.
8. Anchor (Jangkar)
Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada
achor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macam
anchor, yaitu :
• Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing,
tonjolan-tonjolan batuan, dan sebagainya.
• Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada
tebing oleh si pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain.
Mengetahui perbedaan antara; nuts dan cams, friends dan carabiner, dan lainnya
Belay Device (Peralatan untuk Belay)
Belay Device adalah peralatan untuk menahan tali saat pemanjatan
agar pemanjat tidak terjatuh. Banyak jenis yang biasa dipakai,
yang paling sering dipakai adalah ATC, Figure 8, dan Grigri.
Cam atau Friends
Spring Loaded Camming Device (SLCD) atau biasa disebut cam atau
friends adalah peralatan proteksi pemanjatan yang fenomenal,
diciptakan oleh Ray Jardine seorang aerospace engineer yang
senang manjat pada tahun 1973. Jika ditarik, ujungnya akan mengecil
sehingga mudah dimasukkan ke celah tebing. Jika dilepas ujungnya
akan mengembang memenuhi celah tebing. Cam tersedia dalam beberapa
ukuran disesuaikan dengan lebar celah tebing.
Carabiner
Ada banyak jenis carabiner, setiap jenis memiliki fungsi tersendiri
dalam pemanjatan.
Carabiner HMS memiliki kunci (screw) sebagai pengaman, dipakai
sebagai anchor pada top roping dan juga dipakai oleh belayer.
Carabiner D atau Oval dan Snap (Snapring) digunakan untuk keperluan
lain seperti untuk dipakai bersama dengan cam dan draw.
Quickdraw atau Runner
Adalah pasangan webbing atau sling dengan dua buah carabiner jenis
snapring, dipakai sebagai alat proteksi di tebing.
Hexes
Adalah pasangan sling dengan tabung alumunium (titanium) segi enam.
Berfungsi sama dengan cam, berharga lebih murah, tetapi lebih sulit
dalam penempatannya di celah tebing. Seperti cam. hexes tersedia dalam
beberapa ukuran.
Nuts
Nuts adalah peralatan proteksi yang paling banyak dipakai oleh
pemanjat tebing, fungsinya sama dengan cam dan hexes dengan harga
lebih murah.
Tricams
Adalah peralatan proteksi pemanjatan, walaupun berbeda bentuk tetapi
fungsinya sama dengan nuts. Pemakaiannya relatif sulit, tidak
dianjurkan dipakai untuk pemula.
Prosedur Pemanjatan
Tahapan-tahapan dalam suatu pemanjatan hendaknya dimulai dari langkah-langkah
sebagai berikut
1. Mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dipakai.
2. Menyiapkan perlengkapan yang diperlukan.
3. a. Untuk leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa, agar mudah
untuk diambil / memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas leader adalah membuka
lintasan yang akan dilalui oleh dirinya sendiri dan pendaki berikutnya.
b. Untuk belayer, memasang anchor dan merapikan alat-alat (tali yang akan
dipakai). Tugas belayer adalah membantu leader dalam pergerakan dan mengamankan
leader bila jatug. Belayer harus selalu memperhatikan leader, baik aba-aba ataupun
memperhatikan tali, jangan terlalu kencang dan jangan terlalu kendur.
4. Bila belayer dan leader sudah siap memulai pendakian, segera memberi aba-aba
pendakian.
5. Bila leader telah sampai pada ketinggian 1 pitch (tali habis), ia harus
memasang achor.
6. Leader yang sudah memasang anchor di atas selanjutnya berfungsi sebagai
belayer, untuk mengamankan pendaki berikutnya.

SEJARAH ROCK CLIMBING

Olah raga rock climbing semakin berkembang pesat pada tahun-tahun terakhir ini di
Indonesia. Kegiatan ini tidak dapat dipungkiri lagi sudah sudah merupakan kegiatan
yang begitu diminati oleh kaula muda maupun yang merasa muda ataupun juga yang
selalu muda.Pada dasarnya, rock climbing adalah teknik pemanjatan tebing batu yang
memanfaatkan cacat batu tebing (celah atau benjolan) yang dapat dijadikan pijakan
atau pegangan untuk menambah ketinggian dan merupakan salah satu cara untuk
mencapai puncak. Ciri khas rock climbing adalah prosedur dan perlengkapan yang
digunakan dalam kegiatan, juga prinsip dan etika pemanjatan.
Rock Climbing bukan hanya menjadi komoditi industri olah raga dan petualngan saja.
Tetapi aplikasinya juga telah menjadi komoditas industri-industrilainnya seperti
wisata petualangan,outbound training,entertaiment,iklan dan film,serta industriindustri
lainnya yang membutuhkan jasa ketinggian.Oleh karena itu perlu ilmu rock
climbing yang sangat mendasar sebagai acuan yang kuat diri dan dunia rock climbing
itu sendiri.
Sejarah Rock Climbing
Pada awalnya rock climbing lahir dari kegiatan eksplorasi alam para pendaki gunung
dimana ketika akhirnya menghadapi medan yang tidak lazim dan memiliki tingkat
kesulitan tinggi,yang tidak mungkin lagi didaki secara biasa (medan vertical dan
tebing terjal).Maka dari itu lahirlah teknik rock climbing untuk melewati medan
yang tidak lazim tersebut dengan teknik pengamanan diri (safety procedur).Seiring
dengan perkembangan zaman rock climbing menjadi salah satu kegiatan petualangan
dan olah raga tersendiri.Terdapat informasi tentang sekelompok orang Perancis di
bawah pimpinan Anthoine de Ville yang mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097
mdpl) di kawasan Vercors Massif pada tahun 1492. Tidak jelas benar tujuan mereka,
tetapi yang jelas, beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebingtebing
batu di pegunungan Alpen diketahui adalah para pemburu Chamois (sejenis
kambing gunung). Jadi pemanjatan mereka kurang lebih dikarenakan oleh faktor mata
pencaharian.
Pada tahun 1854 batu pertama zaman keemasan dunia pendakian di Alpen diletakan
oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3708 mdpl). Inilah
cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga. Kemudian pada tahun-tahun
berikutnya barulah terdengar manusia-manusia yang melakukan pemanjatan tebingtebing
di seluruh belahan bumi.
Lalu pada tahun 1972 untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal
olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam olimpiade Munich.
Baru pada tahun 1979 olah raga panjat tebing mulai merambah di Indonesia.
Dipelopori oleh Harry Suliztiarto yang memanjat tebing Citatah, Padalarang. Inilah
patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.

Monday, December 14, 2009

TETAP FIT DAN SEHAT SELAMA BERTUALANG

Obyek wisata atau obyek petualangan yang menarik, teman seperjalanan yang menyenangkan dan heboh…. merupakan beberapa indikator asyiknya sebuah perjalanan atau petualangan. Namun itu semua akan sia-sia, tidak akan kita gubris dan akan menjadi hambar bila kondisi badan kita tidak sehat, tidak bugar dan dalam keadaan sakit.

Maka kerugian yang akan kita derita berlipat-lipat. Tidak bisa menikmati indahnya alam, uniknya adat istiadat dan budaya, kehangatan dan keramahan masyarakat lokal, nikmatnya makanan tradisional dan serunya perjalanan. Belum lagi waktu yang terbuang dan habisnya uang dalam jumlah yang tidak sedikit.

Maka, selain mempersiapkan dengan matang rencana perjalanan, kita wajib mempersiapkan fisik sebaik-baiknya agar tetap fit dan sehat selama perjalanan.

Salah satu persiapan sebelum melakukan perjalanan tentunya dengan rutin berolahraga. Agar badan kita sehat, bugar dan memiliki daya tahan yang lama menghadapi deraan perjalanan panjang yang melelahkan.

Selama bertualang lupakan program diet, program melangsingkan tubuh, rencana menghilangkan perut buncit, keinginan membakar lemak di paha, bokong dan sebagainya. Program dan rencana diatas hanya akan membuat kita berhitung, kita pilih-pilih makanan dan kadang makan kadang tidak. Lupakan itu semua, jangan lakukan itu.

Selama bertualang makan yang banyak baik ketika sarapan, makan siang atau makan malam. Nyemil juga bagus dan dianjurkan, apalagi kalau cemilannya makanan padang.

Jadi salah satu kunci agar tubuh tetap fit dan sehat adalah makan, makan dan makan. Perut kosong ketika melakukan perjalanan darat, laut, sungai atau udara, hanya akan mengundang masuk angin dan memperlemah daya tahan tubuh yang berarti mengundang penyakit ke tubuh kita. Makanan yang kita konsumsi terutama karbohidrat (nasi, kentang) selain memberi tenaga juga menambah kuat daya tahan tubuh dan menjaga sistim kekebalan dalam tubuh kita tetap siaga dan berfungsi sebagaimana mestinya. Makanan yang kita konsumsi terutama protein (daging ayam, sapi, ikan) akan memperbaiki sel-sel yang rusak akibat aktifitas berat seharian.

Jangan pilih-pilih makanan yang sesuai selera kita saja. Makanan yang ada wajib kita santap, walau kotor sekalipun, daripada perut kosong sama sekali. Biasanya pilihan makanan sangat sedikit bila kita berada di pedalaman yang terpencil.

Di beberapa lokasi kita pasti makan seadanya, asal terhidang, tidak bisa memilih. Karena seadanya maka makanan yang kita santap pastinya kurang dalam kandungan gizi, protein dan vitamin. Alangkah baiknya, setelah makan kita mengkonsumsi juga vitamin dan suplemen makanan. Vitamin dan suplemen makanan akan membantu memenuhi kebutuhan tubuh dengan nutrisi yang baik.

Selain makan, kebutuhan minum juga harus banyak. Normalnya kita harus minum 2-3 liter sehari. Bila aktifitas berat kita harus lebih banyak minum. Karena pastinya kita banyak mengeluarkan keringat dan ini harus kita ganti dengan air yang kita minum, agar tubuh tidak mengalami dehidrasi, atau kekurangan cairan.

Kemudian yang wajib dibawa kalau dalam perjalanan atau bertualang adalah obat-obatan pribadi. Walaupun dalam kelompok atau grup sudah disiapkan obat-obatan. Namun alangkah baiknya kita juga membawa satu kantong kecil berisi obat-obatan pribadi, karena hanya kita yang tahu persis obat apa yang cocok kalau kita sakit.

Agar tidak memberatkan kita seleksi obat-obatan tersebut, kita pilih yang benar-benar berfungsi nantinya. Misalnya (ini obat yg biasa saya bawa) kalau punya sakit maag ya kita siapkan obat maag (saya tidak punya maag, jadi tidak pernah bawa), kalau suka mabuk darat, laut atau udara ya jangan lupa bawa obat anti mabuk (tidak pernah bawa juga). Kemudian obat sakit kepala (panadol), sakit perut atau diare (imodium), obat jamur kulit (daktarin), obat memar (trombopop gel), obat flu dan demam (decolgen), obat batuk (bisolvon), antibiotic (amoxilin), obat gatal (ctm), untuk menetralisir racun (norit), obat pegal dan keseleo (counterpain). Obat luka luar seperti obat antiseptic (betadine) dan kasa steril.

Bila tujuan petualangan kita adalah wilayah Indonesia bagian timur seperti Flores, Kalimantan dan Papua. Kita harus mengantisipasi serangan panyakit malaria, karena kawasan tersebut merupakan kawasan endemik malaria. Beberapa obat anti malaria (resocin) dalam aturan pakainya mewajibkan menelan 2 butir obat tersebut untuk orang dewasa, 2 minggu sebelum berangkat, terus setiap minggunya 2 butir lagi di hari yang sama, kita tetap minum selama di lokasi dan 2 minggu setelah pulang dari lokasi petualangan.

Pencegahan dengan meminum obat malaria tidak akan efektif bila kondisi badan kita sakit, makanya jaga kondisi badan agar tetap sehat. Bila disiang hari bolong kita merasakan ngilu disekujur badan dan mengigil disaat udara panas, itu tandanya kita sedang diserang malaria.

Salah satu cara untuk menangkal penyakit ini agar tidak benar-benar menguasai tubuh kita yaitu dengan di BOM…! Kita telan sebanyak 6 butir obat malaria sekaligus, sangat pahit dan menyakitkan memang. Namun ini salah satu cara mencegah penyakit malaria. Karena bila kita sudah positif terkena, kita akan memperoleh pengobatan sejenis dengan dosis yang sama di rumah sakit.

Cara lain untuk menghindari penyakit malaria…ini kata orang tua juga…jangan sering tidur sore-sore, kalau dipan atau tempat tidur tidak pake kelambu. Karena konon nyamuk malaria aktif di sore hari. Penangkal malaria yang lain adalah sering-sering minum dan makan yang pahit-pahit, seperti teh pahit, pare, daun papaya dan lain sebagainya. Obat anti malariapun (resocin) rasanya sangat pahit. Semua makanan yang pahit kebetulan saya suka dan makan dalam porsi banyak, kalau ada. Malah kadang sengaja saya cari dan makan. Ahamdulillah sampai sekarang saya belum pernah kena penyakit malaria.

Monday, December 7, 2009

Tips Merawat Waterproof

Sering kali kita dikecewakan oleh peralatan kita seperti tenda, poncho, ransel, dan sleeping bag. Pasalnya peralatan tersebut baru saja kita beli dan setelah dua sampai tiga kali kita pakai, peralatan tersebut sudah kehilangan anti airnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut kami ingin membagi ilmu.
Bagaimana caranya mengembalikan anti air tersebut???

Pertama

Sediakan 100 gram tawas (aulin), 200 gram loodacetat. Masing-masing dilarutkan dalam 1,5 liter air dan didiamkan selama 12 jam. Setelah itu campurkan bagian jernih dari kedua larutan itu. Kemudian setelah kotoran-kotorannya dibuang, pada campuran itu tambahkan 3 liter air lagi.

Nah, anda dapat mulai memasukkan peralatan yang telah dicuci bersih. Diamkan selama 24 jam. Jangan lupa balikkan peralatan tersebut agar basahnya merata. Keringkan peralatan tersebut tanpa diperas dan anda telah memiliki peralatan yang anti air kembali.

Kedua

Sediakan 25 gram sabun cuci, 25 gram agar-agar, 1,5 liter air panas dan 25 gram tawas. Larutkan sabun dan agar-agar tersebut dalam air panas yang telah disediakan tadi. Setelah hancur tambahkan 2 liter air dingin.

Masukan ransel yang telah dicuci dan direndam selama 24 jam, keringkan tanpa diperas dan jemurlah hingga kering.
Demikianlah jurus-jurus ampuh untuk mengembalikan anti air pada peralatan gunung kita. Selamat mencoba!
Diambil dari buku “Perkemahan” karya Suardiman Ranu Widjojo

Saturday, December 5, 2009

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN - “Mutiara Hijau Pulau Jawa”

”Halimun” senantiasa menyelimuti hijaunya hutan tropis dan hamparan perkebunan teh. Sementara lekuk-lekuk aliran sungai berrair jernih dan hampasan beberapa air terjun menyuburkan alam sekelilingnya. Tingkah polah Surili dan Owa Jawa meriuhkan keheningan hutan. Sejuta pesona Taman Nasional Gunung Halimun bagaikan ”Mutiara hijau yang menghiasi pulau Jawa”

Sebagaimana namanya Taman Nasional Gunung Halimun selalu diliputi kabut. Dikawasan yang sejak Juli 2003 mempunyai luas kurang lebih 113.000 hektar dari luas sebelumnya yang hanya 40.000 hektar menyimpan berjuta pesona alam dan keanekaragaman hayati. Berada pada ketinggian antara 500 s/d 1.929 meter dari permukaan laut (mdpl), kawasan yang sejuk ini di kelilingi beberapa pegunungan. Ada tujuh puncak gunung yang mengelilinginya yaitu gunung Sanggabuana, gunung Kencana, gunung Botol, gunung Pareang, gunung Halimun Selatan, gunung Pananjoan, gunung Kendeng dan gunung Halimun Kaler (±1.929 mdpl) sebagai puncak tertingginya. Dengan jarak kurang lebih 100 Km arah barat daya Jakarta, kawasan taman nasional ini sangat mudah di jangkau. Secara administratif, kawasan ini masuk dalam tiga wilayah kabupaten, yaitu Bogor, Lebak dan Sukabumi. Untuk masuk dan menjelajahi kawasan ada tiga pintu masuk yang bisa dilalui yaitu Parung Kuda-Sukabumi, Leuwijamang – sebelah utara Kabupaten Bogor dan Cikidang (Pangguyangan) – sebelah timur Kabupaten Sukabumi.

Selama berada di dalam kawasan taman nasional ini kita akan merasakan bagaimana suasana hutan hujan tropis yang begitu mempesona. Karena menurut informasi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun merupakan satu-satunya kawasan hutan hujan tropis asli yang masih tersisa di pulau Jawa. Beberapa sungai berair jernih mengalir dan tidak pernah mengering sepanjang tahun. Sungai-sungai tersebut antara lain sungai Ciberang, Cikaniki, Ciujung dan Cimandur yang selalu memenuhi kebutuhan air bagi daerah-daerah disekitanya..

Dengan curah hujan berkisar antara 4.000 – 6.000 mm per tahun dan kelembabannya yang tinggi membuat kawasan ini menyimpan begitu banyak sumber kekayaan alam. Berbagai jenis hewan langka dan yang endemik dapat kita jumpai di kawasan yang eksotik ini, seperti Macan Tutul, Owa Jawa, Monyet Surili, Lutung, Anjing Hutan, Babi Hutan dan berbagai jenis burung. Berdasarkan sejarah pernah pula hidup Badak Jawa dan Harimau Jawa. Bahkan kawasan ini merupakan surganya Elang Jawa. Kita akan sering kali menjumpai burung ini terbang berputar-putar di atas perkebunan teh Nirmala yang masuk dari bagian kawasan taman nasional. Juga tumbuh puluhan jenis anggrek hutan di kawasan ini bahkan ada sebagian diantaranya yang tergolong langka. Menurut data dari Kantor Balai Taman Nasional Gunung Halimun, di dalam kawasan ini hidup lebih dari 200 jenis burung, tidak kurang dari 75 jenis anggrek, termasuk yang berjenis langka dan lain-lain.

Di dalam hutannya yang masih perawan kita dapat menjumpai beberapa air terjun yang sangat eksotik dan bahkan ada yang jauh berada di dalam hutan. Diantara air terjun atau curug yang dapat dikunjungi antara lain, Curug Macan, Cikudapaeh, Cihanjawar, Citangkolo dan Curug Piit. Semunya itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Selama perjalanan menuju air terjun kita akan menjumpai beberapa hewan langka dan tumbuhan yang usianya bisa mencapai ratusan tahun.

Secara umum wisata petualangan di Taman Nasional Gunung Halimun bisa dinikmati oleh seluruh keluarga dan usia, dari anak-anak sampai orang tua. Semuanya bisa disesuaikan dengan lokasi-lokasi yang akan jadi tujuan selama berada di dalam kawasan taman nasional sesuai dengan tingkat usia serta kemampuan kita.

Kabandungan – Cikaniki - Citalahab
Pintu masuk ke kawasan taman nasional yang umum dan sering dikunjungi yaitu melalui Kabandungan. Untuk sampai di wilayah Kabandungan kita harus melalui wilayah Parung Kuda (jalan raya yang melewati Stasiun Kereta Api Parung Kuda). Wilayah Kabandungan yang merupakan nama sebuah kecamatan, terdapat kantor Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGH-S). Disini kita bisa melapor sekaligus mengurus administrasinya. Selain itu disediakan pula wisma tamu untuk anda yang ingin bermalam.

Di balai taman nasional ini pula kita bisa mendapatkan informasi yang sangat lengkap sebelum kita bertualang menjelajahi wilayah taman nasional. Disini terdapat ruangan yang menyimpan berbagai obyek foto, buku-buku, maket tiga dimensi bahkan ruang auditorium yang menggambarkan secara ringkas dan jelas hal-hal yang berhubungan dengan taman nasional. Dari kantor balai taman nasional perjalanan dapat kita lanjutkan menuju Stasiun Penelitian (Research) Cikaniki yang berjarak 18 km. Jalan yang akan kita lalui merupakan jalan berbatu-batu. Aspal terakhir hanya sampai desa Cipeuteuy, kira-kira 2 km dari kantor balai taman nasional. Setelah itu baru kita bisa menggunakan ojeg motor atau kendaraan sejenis L-300 yang banyak terdapat disana. Tetapi jika ingin menggunakan kendaraan pribadi disarankan menggunakan mobil sejenis 4WD atau minimal sejenis Kijang dan Panther.

Sebelum masuk ke gerbang kawasan taman nasional kita akan melewati perkampungan penduduk, ladang dan sawah. Untuk sampai Stasiun Penelitian Cikaniki dari gerbang kawasan taman nasional jarakanya ±6 km. Sepanjang jalan dari gerbang menuju Cikaniki tidak akan membosankan karena kita melintasi hutan hujan tropis yang asri dan hijau. Di sepanjang jalur ini pula kita akan melintasi salah satu habitat Owa Jawa. Dekat sebuah perbatasan yang memisahkan Kabupaten Sukabumi dan Bogor terdapat papan petunjuk yang menginformasikan bahwa disitu merupakan salah satu lintasan Macan Tutul.

Tidak lama kemudian baru kita akan sampai di Stasiun Penelitian Cikaniki, berupa bangunan modern dari kayu yang didatangkan dari Pulau Kalimantan dan bergaya arsitektur Jepang. Stasiun tersebut dibangun oleh sebuah lembaga bantuan asing dari Jepang, JICA, sebagai tempat atau pusat research para peneliti baik asing maupun lokal. Disini fasilitas cukup lengkap karena ada tempat parkir, wisma tamu yang dilengkapi dengan kamar-kamar, dapur dan ruang makan. Selain itu diruang tamu terdapat beberapa contoh jenis hewan khas taman nasional yang sudah diawetkan dan beberapa obyek foto serta buku-buku yang bisa menambah informasi kita mengenai kawasan taman nasional. Dekat stasiun terdapat sebuah sungai yang jernih dan suara airnya mengalir memecahkan keheningan disekelilingnya. Terkadang di hutan yang mengelilingi Stasiun Penelitian Cikaniki dijumpai Monyet Surili bergelantungan.
Sekitar 200 meter utara stasiun Cikaniki, terdapat menara penelitian atau biasa dipakai untuk pengamatan burung. Menara ini biasa disebut Canopy Trail yaitu berupa jembatan gantung yang saling terhubung dan bertumpu pada empat pohon besar. Panjang jembatan ini tidak kurang dari 100 meter dengan ketinggian 25-30 meter. Dari atas jembatan ini kita dapat melihat pemandangan yang indah yaitu dengan melihat tajuk-tajuk pohon besar dengan anak sungai Ciberang mengalir dibawahnya. Pada malam hari, dibawah Canopi Trail, tepatnya disekitar kaki tangga naik kita bisa melihat jamur yang berflurocence atau menyala dalam kegelapan hutan disela-sela semak dan tanaman yang tumbuh disana. Salah seorang kawan ketika melihat kilauan jamur-jamur tersebut mengungkapkan kekagumannya, ”bagaikan light in dark ya...keren banget...”,. Tidak salah memang kekagumannya, karena jamur yang di siang hari terlihat berbentuk bulat putih kecil-kecil akan terluhat menyala tersebar di sela-sela hijaunya dedaunan. Lima puluh meter dari stasiun, terdapat rumah pohon yang baru dibangun akhir tahun 2006 dan menjadi fasilitas baru kawasan taman nasional ini.

Begitu masuk kawasan taman nasional, mungkin anda akan langsung jatuh cinta dan merasa tidak puas untuk hanya sekali berkunjung. Sebagaimana halnya penulis, walaupun sudah berkali-kali mengunjunginya tetap selalu ada keinginan untuk kembali. Karena setiap kali kita datang selalu ada misteri dan pesona alam yang baru. Terlebih ketika melihat sang raja udara, Elang Jawa berputar-putar di udara di atas perkebunan teh Nirmala Agung, Citalahab (±2 km dari Stasiun Penelitian Cikaniki) merupakan pengalaman yang sulit untuk dilupakan.

Untuk sampai di kampung Citalahab masih dengan jalan yang berbatu kita akan melewati jalur yang menuju air terjun, Curug Macan (±300 meter dari stasiun) yang pernah menjadi habitatnya Macan Tutul. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari stasiun Cikaniki, Curug Macan sangat sayang untuk dilewatkan. Di air terjun tersebut kita bisa mandi dan beristirahat sejenak menikmati kesegaran airnya. Kemudian kita akan melewati perkebunan teh Nirmala Agung. Hamparan perkebunan teh ini begitu luas di areal yang berbukit-bukit. Ketika kabut naik pemandangan disekitar perkebunan teh sungguh luar biasa karena kita akan melihat kabut atau halimun menggelayuti tanaman teh dan hutan tropis hijau dan lebat yang menjadi latar belakangnya. Sewaktu kabut muncul diantara lebatnya hutan tersebut, pemandangan tampak semakin mempesona dan menakjubkan

Selain jalur tersebut di atas ada jalur lain yang lebih menarik lagi untuk menuju kampung Citalahab, yaitu melalui jalan setapak yang disebut Loop Trail sepanjang ±3,8 km, melalui Stasiun Penelitian Cikaniki dan Canopy Trail. Sepanjang jalur loop trail ini dengan melintasi hutan tropis yang sudah dilengkapi dengan papan petunjuk dan beberapa bangunan sebagai shelter atau pos untuk beristirahat, kita akan menikmati kekayaan hutan yang berada dalam kawasan. Disepanjang jalur kita akan melihat beberapa jenis Anggrek hutan, Kupu-kupu, tanaman Suplir, Kantong Semar, pohon-pohon yang usianya bisa mencapai ratusan tahun, serta berbagai aneka tumbuhan dan fauna hutan lainnya. Jika beruntung kita bisa juga menjumpai Monyet Ssurili dan Owa Jawa. Kita juga akan melintasi sungai yang jernih dan sejuk. Ujung dari loop trail ini sebuah bumi perkemahan yang berada persis di Kampung Citalahab dengan pemandangan perkebunan teh yang memukau serta sebuah sungai jernih yang mengalir di bawahnya.

Jika ingin merasakan suasana jungle trekking yang lebih menantang kita bisa masuk ke dalam hutan lebih jauh lagi menuju air terjun yang tidak terlalu besar namun indah, karena letaknya benar-benar di dalam hutan yang perawan, Curug Cikudapaeh. Air terjun ini memiliki kolam yang bisa digunakan untuk mandi diantara dinding-dinding batu yang bergema. Masih melalui jalan setapak, loop trail, di pertigaan yang mengarah ke Kampung Citalahab Bedeng (arah ke kanan), kita harus memilih jalur lain ke sebelah kiri atau lurus untuk sampai di curug Cikudapaeh. Jalur ini jarang sekali ditempuh orang sehingga terkadang kita harus menerabas, karenanya tidak dianjurkan untuk berjalan sendiri tanpa pemandu dari taman nasional. Dianjurkan menggunakan sepatu jika ingin trekking melalui jalur ini karena beberapa lokasi berlumpur. Dengan berjalan kaki normal dalam waktu ±4 jam kita sudah sampai di Curug Cikudapaeh. Untuk keluar kita bisa kembali melalui jalan semula atau menyeberangi Sungai Cikudapaeh keluar melalui kampung Citalahab Bedeng dan kembali lagi ke kampung Citalahab Bawah melalui perkebunan teh.

Di kampung Citalahab Bawah terdapat guest house yang dikelola masyarakat setempat. Guest house yang berarsitektur tradisonal sunda tersebut berada persis bersebelahan dengan Bumi Perkemahan Citalahab dan dibatasi sebuah sungai dengan perkampungan penduduk. Walaupun bergaya tradisional, guest house ini cukup lengkap termasuk dapur, ruang makan, MCK yang cukup modern, dan sebuah balai kecil seperti balai pertemuan petani yang bisa menjadi tempat berkumpul.

Tetapi jika ingin bersosialisasi dengan penduduk Kampung Citalahab Bedeng, kita bisa menggunakan home stay yang juga dikelola oleh penduduk setempat. Home stay tersebar di beberapa rumah penduduk lengkap dengan gaya arsitektur sunda dan biasanya wisatawan asing senang menggunakan home stay ini.

Jadi semua kembali kepada anda, ingin menggunakan tempat yang lebih modern seperti Stasiun Penelitian Cikaniki. Atau ingin yang lebih tradisional, bersentuhan langsung dengan masyarakat dan berada diantara perkebuhan teh yang menghijau, seperti guest house dan home stay di Citalahab.

Tidak jauh dari Kampung Citalahab masih ada obyek menarik lainnya, yaitu pabrik teh Nirmala Agung. Jika sedang beroperasi, kita dapat melihat langsung proses pembuatan teh di pabrik yang berada sekitar 6 km dari Kampung Ctalahab. Teh hasil pengolahan pabrik ini terasa lebih nikmat dan beraroma khas. Dari pabrik pembuatan teh, kita bisa menuju Curug Piit yang merupakan air terjun yang tinggi, besar dan indah. Curug Piit jaraknya jaraknya tidak terlalu jauh dari pabrik pembuatan teh, kira-kira 2 km lagi dengan melewati perkampungan dimana terdapat persawahan dan lumbung padi tradisional.

Tantangan Mendaki Menuju Puncak Gunung Kendeng
Melakukan pendakian menuju puncak Gunung Kendeng +/- 1.625 mdpl) di kawasan taman nasional ini merupakan kegiatan menantang lainnya. Di butuhkan waktu sekitar 3-4 jam dari stasiun penelitian Cikaniki untuk sampai puncaknya.

Sepanjan perjalanan menuju puncak Gunung Kendeng, kita akan melintasi hutan hujan tropis yang sangat asri dan bersih. Medan pendakian yang akan kita lalui terlihat sangat bersih tanpa sampah sedikitpun. Jalan setapak menuju puncak Gunung Kendeng tidak terlalu lebar dan di beberapa jalur sedikit tertutup atau bahkan tertutup sama sekali oleh semak-semak.

Medan pendakian mempunyai kemiringan yang bervariasi. Sekitar 90 menit berjalan dari stasiun penelitian Cikaniki, kita akan tiba di satu areal yang cukup datar dan luas. Dari tempat tersebut kita dapat melihat pemandangan yang sangat menarik, indah dan bebas ke arah lembah atau lereng gunung.

Kemudian perjalanan di lanjutkan kembali melalui hutan hujan tropis yang semakin rapat. Di sepanjang jalur kita dapat menemukan beberapa tumbuhan jenis jamur dan beberapa di antaranya bahkan mempunyai bentuk yang unik. Salah satunya jamur yang bentuknya sebagaimana yang pernah kita lihat dalam film kartun ”Mario Bross”.

Setelah beberapa saat melintasi jalur pendakian yang lumayan landai dan cukup panjang, kemudian jalur pendakian kembali menanjak. Sekitar 1.5 hingga 2 jam kemudian pun kita akan tiba di puncak Gunung Kendeng. Puncak Gunung Kendeng hanya sebuah dataran yang tidak terlalu luas, dimana disekelilingnya ditumbuhi semak-semak. Namun, pendakian menuju puncak Gunung Kendeng benar-benar menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Di sepanjang jalur kita akan di suguhkan suasana hutan hujan tropis yang masih sangat terawat. Jika beruntung, kita juga dapat melihat Owa Jawa dan Surili di sepanjang jalur. Suasana hutan hujan tropis yang masih asli dan berbagai keanekaragaman tumbuhan juga menjadi pemandangan tersendiri bagi kita sepanjang perjalanan.

Obyek Wisata dan Kegiatan Lainnya
Selain berbagai kegiatan dan obyek yang telah disebutkan di atas, sebenanya masih ada obyek menarik lainnya yang bisa kita kunjungi, diantaranya, mengunjungi bangunan tua sisa zaman Megalitikum – Candi Cibedug. Bangunan berundak yang terbuat dari tanah ini dapat ditempuh dengan jarah sekitar 8 kilometer melalui desa Citorek. Acara ritual di sekitar Candi Cibedug biasa di pimpin oleh tujuh orang yang disucikan oleh penduduk setempat.

Jika ingin menyaksikan berbagai atraksi budaya dan kesenian tradisional sunda, anda bisa datang di antara bulan Juli sampai dengan Agustus, karena biasanya pada bulan-bulan tersebut diadakan acara pesta panen – Sereun Taon. Acara yang diikuti oleh seluruh masarakat Kasepuhan Banten Kidul ini dipimpin oleh tokoh kasepuhan, Abah Anom. Sereun Taon merupakan pesta panen sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur atas limpahan hasil panen yang diberikan sang Pencipta kepada masyarakat kasepuhan. Upacara Sereun Taon di adakan di Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Untuk mencapai ke lokasi bisa melalui Sukabumi – Pelabuhanratu – Cisolok dan kemudian berhenti di Desa Cileungsing. Dari Desa Cileungsing untuk menuju Desa Sirnaresmi harus berhenti di Kampung Pangguyangan. Semua kendaraan roda empat hanya bisa sampai di Pangguyangan, karena jalan yang menuju Kampung Ciptagelar selanjutnya sangat berat, kecuali jika menggunakan kendaraan sejenis 4WD atau Jeep. Selain menggunakan mobil sejenis Jeep, kita bisa melanjutkannya dengan menggunakan ojeg atau berjalan kaki.

Tuesday, December 1, 2009

Komponen Dasar Panjat Tebing

Seperti halnya jenis olah raga lain, Panjat Tebing memerlukan tingkat fisik dan mental
yang baik. Satu hal yang mungkin perlu diingat yaitu bahwa dari satu sisi panjat tebing
terlihat sebagai satu olah raga yang bersifat mental, karena untuk menyelesaikan satu
rute/problem kamu harus membuat strategi penyelesaian masalah (problem solving)
dengan kombinasi tehnik yang baik. Disisi lain karena posisi pemanjat yang
menggantung dan arah gerak/posisi tubuh yang berlawanan dengan daya gravitasi
mereka perlu otot yang enggak lembek, yang ini lebih bersifat fisik.
Saya mengkategorikan komponen dasar ini kedalam dua aspek:
1. Komponen Fisik
2. Komponen Non Fisik
Yang termasuk kedalam komponen fisik yaitu:
Kekuatan
Jangan menganggap bahwa kekuatan yang dimaksud disini yaitu sekedar kekuatan
tangan. Pemanjat enggak manjat cuma dengan tanggannya mereka pake kaki, pake
badan dan yang penting lagi mereka juga pake otak bo. Kekuatan ini cakupannya
menyeluruh termasuk kekuatan tangan dan kaki (limp strength) dan kekuatan tubuh
(core strength) yaitu perut, dada, punggung dan pinggang. Kekuatan ini sangatlah
diperlukan ketika kamu mulai beranjak ke tingkat mahir yang biasa dimulai dengan
pemanjatan dengan kesulitan rute 5.11 keatas.
Daya Tahan
Daya tahan artinya kemampuan kamu untuk memanjat rute yang panjang tanpa terlalu
banyak berhenti/ istirahat. Tentunya ini sangat mendominasi para pemanjat multi pitch.
Training untuk ini jarang sekali dilakukan pada rute dengan kesulitan tingkat tinggi
karena jika demikian maka akan cenderung ke training kekuatan dan bukannya daya
tahan. Cukup dimulai dengan rute mudah dan terus dilanjutkan ke rute-rute yang tidak
terlalu sulit untuk sekitar 15 menit sampe 45 menit (pemula) tanpa diselingi istirahat.
Kelenturan
Meskipun wanita pada umumnya tidak sekuat pria, biasanya mereka lebih menonjol
dalam bidang ini. Kelenturan bisa sangat menentukan apakah seseorang pemanjat
dapat menyelesaikan satu rute tertentu atau tidak, karena itu janganlah disepelekan.
Selalu lakukan pemanasan kemudian melenturkan tubuh (stretching) sebelum kamu
memanjat. Kombinasi kelenturan dan kekuatan akan menjadikan alur gerak (fluidity) si
pemanjat tampak indah, mudah (padahal sebetulnya sulit) dan mengesankan.
Sedangkan komponen non fisik yaitu:
Mental dan Sikap
Yang dua ini harus selalu positif. Keadaan mental kamu akan menjelma menjadi sikap
yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu pemanjatan. Alasan-alasan seperti
aku kayaknya enggak bisa, aku udah cape, rutenya bukan tipeku, rutenya untuk
pemanjat yang badannya tinggi/ pendek dll merupakan contoh ketidak siapan mental.
Hadapi semua rute/ problem dengan ucapan ” Saya akan coba sebaik mungkin!” Kalo
kamu jatoh/ gagal coba lagi dan coba lagi, disinilah proses belajar memanjat tebing
menuju kesempurnaan sampai kamu akhirnya berhasil menyelesaikan rute tsb tanpa
jatuh.
Tehnik
Tehnik ini jangkauannya umum, bisa termasuk gabungan dari komponen fisik diatas.
Namun kalo kita bicara tehnik biasanya enggak secara langsung berhubungan dengan
otot karena itu saya kategorikan komponen ini ke non fisik. Tehnik ini didapat dari
proses belajar yang enggak sebentar, makanya untuk belajar tehnik dengan cepat dan
baik belajarlah langsung dari pemanjat pro yang sudah berpengalaman. Mereka
biasanya bisa langsung menunjukan kelemahan dan kekurangan pemanjatan kamu.
Kadang untuk belajar tehnik ini kamu harus melakukan gerakan-gerakan yang sama
secara terus menerus sampai tubuh kamu hafal betul untuk mengeksekusi gerak tsb
(biasa disebut engram: daya ingat tubuh dalam melakukan gerakan/posisi tertentu).
064 RB
Tehnik cakupannya luas termasuk keseimbangan dan perpindahan berat badan, posisi,
pernafasan, gerak dinamik dan statik dll.
Hobi panjat tebing, tentu saja tebing merupakan prasarana dalam kegiatan panjat
tebing. Pengetahuan dasar tentang tebing yang harus diketahui antara lain: Bentuk
tebing, bagian tebing yang dilihat secara keseluruhan mulai dasar sampai puncak.
Bagian-bagiannya antara lain blank (bentuk tebing yang mempunyai sudut 90derajat
atau biasa disebut vertikal), overhang (bentuk tebing yang mempunyai sudut
kemiringan antara 10-80 derajat), roof (bentuk tebing
yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menggantung), teras (bentuk tebing
yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menjorok ke dalam tebing), dan top
(bagian tebing paling atas yang merupakan tujuan akhir suatu pemanjatan).
Lalu ada soal permukaan tebing yang merupakan bagian dari tebing yang nantinya
akan digunakan untuk berpegang dan berpijak dalam suatu pemanjatan. Bagian ini di
kategorikan menjadi tiga bagian: face (permukaan tebing yang mempunyai tonjolan),
slap/friction (permukaan tebing yang tidak mempunyai tonjolan atau celah, rata, dan
mulus tidak ada cacat batuan), dan fissure (permukaan tebing yang tidak mempunyai
celah/crack).
Dengan mengenali pengenalan dasar atas medan yang hendak ditempuh, para
pemanjat akan langsung bisa mempersiapkan teknik penaklukannya dan mengurangi
tingkat kesulitannya.
Untuk memudahkan estimasi tingkat kesulitan tersebut, biasanya digunakan sistem
desimal yang dimulai dari angka lima (mengacu pada standar tingkat kesulitan yang
dibuat oleh Amerika).
Tingkat kesulitan 5,7-5,8 adalah tingkat kesulitan pemanjatan yang amat mudah.
Lintasan pemanjatan untuk pegangan dan pijakan sangat banyak, besar, dan mudah
didapat. Sudut kemiringan tebing belum mencapai 90 derajat.
Tingkat kesulitan 5,9. Tingkat kesulitan pemanjatan yang mulai agak sulit karena jarak
antara pegangan dan pijakan mulai berjauhan tetapi masih banyak dan besar.
Tingkat kesulitan 5,10. Pada tingkat ini pemanjatan mulai sulit karena komposisi
pegangan dan pijakan sudah bervariasi besar dan kecil. Jarak antar celah dan tonjolan
mulai berjauhan. Terdapat dua tumpuan tangan dan satu tumpuan kaki, faktor
keseimbangan mulai dibutuhkan.
Tingkat kesulitan 5,11. Tingkat kesulitan ini lebih sulit lagi karena letak antara
pegangan yang satu dengan pegangan yang lainnya berjauhan dan kecil-kecil yang
hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja, kedua tungkai melakukan gerakan
melebar agar kaki dapat bertumpu pada tumpuan berikutnya. Keseimbangan tubuh
sangat berpengaruh, bentuk tebing yang dilalui pada lintasan ini terdapat variasi antara
tebing gantung dan atap.
Tingkat kesulitan 5,13-5,14. Jalur lintasan ini bervariasi antara tebing gantung dan atap
dengan satu tumpuan kaki dan satu tumpuan tangan. Pemanjat mulai melakukan
gerakan gesek (friction) dan bertumpu pada ujung jari (edginh) bahkan harus
mengaitkan tumit pada pijakan (hooking).
Selain kriteria kesulitan ini, Negara lain juga membuat tingkat kesulitan sesuai dengan
penilaian masing-masing, antara lain Jerman, Perancis, UIAA (Union Internationale des
Association Alpines).