Tuesday, December 1, 2009

Komponen Dasar Panjat Tebing

Seperti halnya jenis olah raga lain, Panjat Tebing memerlukan tingkat fisik dan mental
yang baik. Satu hal yang mungkin perlu diingat yaitu bahwa dari satu sisi panjat tebing
terlihat sebagai satu olah raga yang bersifat mental, karena untuk menyelesaikan satu
rute/problem kamu harus membuat strategi penyelesaian masalah (problem solving)
dengan kombinasi tehnik yang baik. Disisi lain karena posisi pemanjat yang
menggantung dan arah gerak/posisi tubuh yang berlawanan dengan daya gravitasi
mereka perlu otot yang enggak lembek, yang ini lebih bersifat fisik.
Saya mengkategorikan komponen dasar ini kedalam dua aspek:
1. Komponen Fisik
2. Komponen Non Fisik
Yang termasuk kedalam komponen fisik yaitu:
Kekuatan
Jangan menganggap bahwa kekuatan yang dimaksud disini yaitu sekedar kekuatan
tangan. Pemanjat enggak manjat cuma dengan tanggannya mereka pake kaki, pake
badan dan yang penting lagi mereka juga pake otak bo. Kekuatan ini cakupannya
menyeluruh termasuk kekuatan tangan dan kaki (limp strength) dan kekuatan tubuh
(core strength) yaitu perut, dada, punggung dan pinggang. Kekuatan ini sangatlah
diperlukan ketika kamu mulai beranjak ke tingkat mahir yang biasa dimulai dengan
pemanjatan dengan kesulitan rute 5.11 keatas.
Daya Tahan
Daya tahan artinya kemampuan kamu untuk memanjat rute yang panjang tanpa terlalu
banyak berhenti/ istirahat. Tentunya ini sangat mendominasi para pemanjat multi pitch.
Training untuk ini jarang sekali dilakukan pada rute dengan kesulitan tingkat tinggi
karena jika demikian maka akan cenderung ke training kekuatan dan bukannya daya
tahan. Cukup dimulai dengan rute mudah dan terus dilanjutkan ke rute-rute yang tidak
terlalu sulit untuk sekitar 15 menit sampe 45 menit (pemula) tanpa diselingi istirahat.
Kelenturan
Meskipun wanita pada umumnya tidak sekuat pria, biasanya mereka lebih menonjol
dalam bidang ini. Kelenturan bisa sangat menentukan apakah seseorang pemanjat
dapat menyelesaikan satu rute tertentu atau tidak, karena itu janganlah disepelekan.
Selalu lakukan pemanasan kemudian melenturkan tubuh (stretching) sebelum kamu
memanjat. Kombinasi kelenturan dan kekuatan akan menjadikan alur gerak (fluidity) si
pemanjat tampak indah, mudah (padahal sebetulnya sulit) dan mengesankan.
Sedangkan komponen non fisik yaitu:
Mental dan Sikap
Yang dua ini harus selalu positif. Keadaan mental kamu akan menjelma menjadi sikap
yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu pemanjatan. Alasan-alasan seperti
aku kayaknya enggak bisa, aku udah cape, rutenya bukan tipeku, rutenya untuk
pemanjat yang badannya tinggi/ pendek dll merupakan contoh ketidak siapan mental.
Hadapi semua rute/ problem dengan ucapan ” Saya akan coba sebaik mungkin!” Kalo
kamu jatoh/ gagal coba lagi dan coba lagi, disinilah proses belajar memanjat tebing
menuju kesempurnaan sampai kamu akhirnya berhasil menyelesaikan rute tsb tanpa
jatuh.
Tehnik
Tehnik ini jangkauannya umum, bisa termasuk gabungan dari komponen fisik diatas.
Namun kalo kita bicara tehnik biasanya enggak secara langsung berhubungan dengan
otot karena itu saya kategorikan komponen ini ke non fisik. Tehnik ini didapat dari
proses belajar yang enggak sebentar, makanya untuk belajar tehnik dengan cepat dan
baik belajarlah langsung dari pemanjat pro yang sudah berpengalaman. Mereka
biasanya bisa langsung menunjukan kelemahan dan kekurangan pemanjatan kamu.
Kadang untuk belajar tehnik ini kamu harus melakukan gerakan-gerakan yang sama
secara terus menerus sampai tubuh kamu hafal betul untuk mengeksekusi gerak tsb
(biasa disebut engram: daya ingat tubuh dalam melakukan gerakan/posisi tertentu).
064 RB
Tehnik cakupannya luas termasuk keseimbangan dan perpindahan berat badan, posisi,
pernafasan, gerak dinamik dan statik dll.
Hobi panjat tebing, tentu saja tebing merupakan prasarana dalam kegiatan panjat
tebing. Pengetahuan dasar tentang tebing yang harus diketahui antara lain: Bentuk
tebing, bagian tebing yang dilihat secara keseluruhan mulai dasar sampai puncak.
Bagian-bagiannya antara lain blank (bentuk tebing yang mempunyai sudut 90derajat
atau biasa disebut vertikal), overhang (bentuk tebing yang mempunyai sudut
kemiringan antara 10-80 derajat), roof (bentuk tebing
yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menggantung), teras (bentuk tebing
yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menjorok ke dalam tebing), dan top
(bagian tebing paling atas yang merupakan tujuan akhir suatu pemanjatan).
Lalu ada soal permukaan tebing yang merupakan bagian dari tebing yang nantinya
akan digunakan untuk berpegang dan berpijak dalam suatu pemanjatan. Bagian ini di
kategorikan menjadi tiga bagian: face (permukaan tebing yang mempunyai tonjolan),
slap/friction (permukaan tebing yang tidak mempunyai tonjolan atau celah, rata, dan
mulus tidak ada cacat batuan), dan fissure (permukaan tebing yang tidak mempunyai
celah/crack).
Dengan mengenali pengenalan dasar atas medan yang hendak ditempuh, para
pemanjat akan langsung bisa mempersiapkan teknik penaklukannya dan mengurangi
tingkat kesulitannya.
Untuk memudahkan estimasi tingkat kesulitan tersebut, biasanya digunakan sistem
desimal yang dimulai dari angka lima (mengacu pada standar tingkat kesulitan yang
dibuat oleh Amerika).
Tingkat kesulitan 5,7-5,8 adalah tingkat kesulitan pemanjatan yang amat mudah.
Lintasan pemanjatan untuk pegangan dan pijakan sangat banyak, besar, dan mudah
didapat. Sudut kemiringan tebing belum mencapai 90 derajat.
Tingkat kesulitan 5,9. Tingkat kesulitan pemanjatan yang mulai agak sulit karena jarak
antara pegangan dan pijakan mulai berjauhan tetapi masih banyak dan besar.
Tingkat kesulitan 5,10. Pada tingkat ini pemanjatan mulai sulit karena komposisi
pegangan dan pijakan sudah bervariasi besar dan kecil. Jarak antar celah dan tonjolan
mulai berjauhan. Terdapat dua tumpuan tangan dan satu tumpuan kaki, faktor
keseimbangan mulai dibutuhkan.
Tingkat kesulitan 5,11. Tingkat kesulitan ini lebih sulit lagi karena letak antara
pegangan yang satu dengan pegangan yang lainnya berjauhan dan kecil-kecil yang
hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja, kedua tungkai melakukan gerakan
melebar agar kaki dapat bertumpu pada tumpuan berikutnya. Keseimbangan tubuh
sangat berpengaruh, bentuk tebing yang dilalui pada lintasan ini terdapat variasi antara
tebing gantung dan atap.
Tingkat kesulitan 5,13-5,14. Jalur lintasan ini bervariasi antara tebing gantung dan atap
dengan satu tumpuan kaki dan satu tumpuan tangan. Pemanjat mulai melakukan
gerakan gesek (friction) dan bertumpu pada ujung jari (edginh) bahkan harus
mengaitkan tumit pada pijakan (hooking).
Selain kriteria kesulitan ini, Negara lain juga membuat tingkat kesulitan sesuai dengan
penilaian masing-masing, antara lain Jerman, Perancis, UIAA (Union Internationale des
Association Alpines).

No comments:

Post a Comment