Thursday, February 25, 2010

Pesona Danau Ranau


Danau Ranau meliputi wilayah Kecamatan Banding Agung Kabupaten OKU
Selatan (dahulu masuk dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu).
Berjarak sekitar 342 km dari Palembang, 130 km dari Baturaja, dan 50
kilometer dari Muara Dua, ibu kota OKU Selatan, dengan jarak tempuh
dengan mobil sekitar 7 jam dari Palembang.

Sementara dari Bandar Lampung, danau ini bisa ditempuh melalui Bukit
Kemuning dan Liwa. Secara geografis, danau ini terletak di perbatasan
Kabupaten OKU Selatan Propinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Lampung
Barat, Provinsi Lampung.

Luas Danau Ranau sekitar 8×16 km dengan latar belakang Gunung Seminung
(ketinggian ± 1.880 m dpl), dikelilingi oleh bukit dan lembah. Pada
malam hari udara sejuk dan pada siang hari suhu berkisar 20° - 26°
Celsius. Terletak pada posisi 4°51′45″ bujur selatan dan 103°55′50″
bujur timur.

Secara geografis, topografi danau ranau adalah perbukitan berlembah,
sehingga menjadikan danau Ranau memiliki cuaca sejuk. Terdapat beberapa
jenis ikan hidup di danau, antara lain mujair, kepor, kepiat, dan harongan.

Pemandangan seputar Danau Ranau sungguh menakjubkan. Apaladi di tengah
danau terdapat pulau bernama Pulau Marisa. Di sana juga terdapat sumber
air panas. Sebagai tujuan wisata,  wilayah ini kaya potensi karena masih
ada objek pendukung seperti air terjun hingga resort.

Asal-Usul

Menurut cerita, danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik
dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Sungai besar yang
sebelumnya mengalir di kaki gunung berapi itu kemudian menjadi sumber
air utama yang mengisi cekungan itu. Lama-kelamaan lubang besar itu
penuh dengan air.

Sekeliling danau ditumbuhi berbagai tumbuhan semak yang oleh warga
setempat disebut ranau. Maka danau itu pun dinamakan Danau Ranau. Sisa
gunung api itu kini menjadi Gunung Seminung yang berdiri kokoh di tepi
danau berair jernih tersebut.

Pada sisi lain di kaki gunung Seminung terdapat sumber air panas dari
dasar danau. Di sekitar danau ini juga dapat ditemui air terjun Subik.
Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Marisa.

Pulau Marisa sebenarnya daratan yang terpisah dari kaki Gunung Seminung
karena genangan air danau. Di daratan yang luasnya tidak lebih dari satu
hektar itu terdapat pohon-pohon kelapa, dan pengunjung bisa sekadar
mampir untuk menikmati keindahan secuil daratan itu.

Danau Ranau memang memiliki pesona. Bagaimana tidak? Bekas letusan
gunung berapi tersebut seolah membentuk panggung alam nan elok. Gunung
Seminung  menjulang 1.880 meter di atas permukaan laut menjadi latar
belakang dengan nuansa magis. Tebing dan barisan perbukitan menjadi
pagar pembatas panggung megah itu.

Hamparan sawah hijau berpadu dengan air Danau Ranau yang biru seolah
menjadi pelataran tempat berbagai jenis ikan berenang. Butir-butir kopi
yang merah seakan-akan menjadi pemanis keindahan itu. Keelokan itu
menjadi lengkap dengan bingkai indah pantai berpasir dan kerikil putih
di sepanjang tepian.

Kawasan Danau Ranau belum digarap dengan sungguh-sungguh. Promosi
pariwisata yang digalang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering
Ulu, Sumatera Selatan, lewat Festival Danau Ranau belum memancing minat
investor secara maksimal. Promosi yang digalakkan oleh Pemerintah
Kabupaten Lampung Barat lewat Festival Teluk Setabas pun hingga kini
belum mendatangkan investasi.

Danau Ranau dari sisi Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan maupun Liwa,
Lampung Barat, sama-sama indah. Wisatawan ingin kembali ke sana,
meskipun hanya berperahu atau sekadar menikmati deburan ombak. Pesona
Danau Ranau tetap mengundang keinginan datang kembali.

Pengunjung yang tidak suka berperahu bisa menghabiskan waktu dengan
beristirahat di penginapan. Di tepi Danau Ranau terdapat beberapa
penginapan, yakni Seminung Lumbok Resort, Kotabatu di Banding Agung, dan
cottage PT Pusri di Sukamarga.

Di kawasan wisata itu juga terdapat obyek tambahan bagi pengunjung,
yakni air panas  dengan kekhasan sendiri, karena mengalir langsung dari
lubang-lubang di tebing. Air panas yang mengandung kadar belerang cukup
tinggi ini terletak di Desa Air Panas di kaki Gunung Seminung. Lokasinya
persis di seberang cottage milik PT Pusri di Sukamarga. Perjalanan
dengan perahu motor dari Sukamarga ke lokasi air panas hanya sekitar 20
menit.

Pengunjung bisa datang kapan saja dan menikmati air panas yang tak
pernah habis mengucur dari perut bumi tersebut. Saat berperahu motor di
danau dengan tujuan air panas, pesona keindahan Danau Ranau pun begitu
terasa. Ombaknya tidak terlalu besar, airnya biru bening, dan pesona
alam sekelilingnya yang bergunung-gunung, niscaya memberi kesan mendalam
bagi pengunjung.

Air panas di tepian Danau Ranau mengucur langsung dari celah-celah kaki
Gunung Seminung. Ketika kaki dicelupkan ke aliran air tersebut, rasa
panas langsung menyengat. Pengunjung tidak sekadar mandi di air hangat.
Air panas itu dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.

Bagi pengunjung yang tidak mandi, mereka bisa menikmati keindahan danau
di sekitar air panas dengan duduk-duduk di warung atau dermaga. Sejumlah
warung makanan terdapat di lokasi itu, berdampingan dengan kolam air
panas. Di warung-warung inilah dijajakan hasil alam Gunung Seminung,
terutama alpokat dan petai.

Legenda

Tempat wisata dalam wilayah Lampung Barat terletak di Desa Lombok. Di
sini telah dibangun daerah wisata terpadu meliputi hotel, tempat
penangkaran rusa dan lain-lain. Rumah penduduk juga dijadikan tempat
menginap wisatawan, sehingga mereka bisa merasakan tinggal di rumah
panggung.

Penduduk sekitar danau menurutkan banyak kisah yang menceritakan asal
usul Danau Ranau. Meskipun secara teori ilmiah diyakini danau ini
terjadi akibat gempa tektonik, seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan
Danau Maninjau di Sumbar, sebagian besar masyarakat sekitar masih
percaya danau ini berasal dari pohon ara. Konon, di tengah daerah yang
kini menjadi danau itu tumbuh pohon ara sangat besar berwarna hitam.

Konon masyarakat dari berbagai daerah seperti Ogan, Krui, Libahhaji,
Muaradua, Komering, berkumpul di sekeliling pohon. Mereka mendapat kabar
jika ingin mendapatkan air, harus menebang pohon ara tersebut.
Masyarakat dari berbagai daerah itu berkumpul dengan membawa makanan
seperti sagon, kerak nasi, dan makanan lainnya.

Persis saat akan menebang pohon, masyarakat kebingungan cara
memotongnya. Ketika itulah muncul burung di puncak pohon mengatakan
warga harus membuat alat berbentuk mirip kaki manusia. Mereka membuat
alat menggunakan batu dengan gagang kayu. Akhirnya pohon ara pun tumbang.

Dari lubang bekas pohon ara itu keluar air dan akhirnya meluas hingga
membentuk danau. Sementara pohon ara yang melintang kemudian membentuk
Gunung Seminung. Karena marah, jin di Gunung Pesagi meludah hingga
membuat air panas di dekat Danau Ranau. Sedangkan serpihan batu dan
tanah akibat tumbangnya pohon ara menjadi bukit di sekeliling danau.

Masih di sisi Danau Ranau, tepatnya di Pekon Sukabanjar, berseberangan
dengan Lombok, terdapat kuburan yang diyakini masyarakat sebagai makam
Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Makam keduanya terletak di kebun warga
Sukabanjar bernama Maimunah. Untuk menuju ke lokasi, selain naik perahu
motor dari Lombok, bisa juga dengan berkendaraan.

Menurut juru kunci kuburan, H Haskia, di sini terdapat dua buah batu
besar. Satu batu telungkup diyakini sebagai makam Si Pahit Lidah dan
satu batu berdiri sebagai makam Si Mata Empat. Si Pahit Lidah disebut
sebagai Serunting Sakti dari Kerajaan Majapahit. Karena dianggap nakal,
Si Pahit Lidah yang bernama asli Raden Sukma Jati ini oleh raja diusir
ke Sumatera. Akhirnya, dia menetap di Bengkulu, Pagaralam, dan Lampung.

Si Pahit Lidah memiliki kelebihan, yakni setiap apa yang dikemukakannya
terkabul menjadi batu. Akibatnya, Si Mata Empat dari India mencarinya
hingga bertemu di Lampung, tepatnya di Way Mengaku. Di Way Mengaku
keduanya saling mengaku nama. Lalu, keduanya beradu ketangguhan.

Salah satu yang dilakukan adalah memakan buah berbentuk seperti aren.
Ternyata buah aren itu pantangan bagi Si Pahit Lidah. Karena makan, ia
tewas. Sementara Si Mata Empat yang mendengar kabar lidah Si Pahit Lidah
beracun tidak percaya dan mencoba menjilatnya. Akhirnya, dia pun tewas.
Peristiwanya, menurut penuturan H Haskia, terjadi di Pulau Pisang. Lalu,
kuburannya ditemukan di pinggir Danau Ranau.(Dari berbagai sumber)

No comments:

Post a Comment