Saturday, June 19, 2010

Psikopatologi Insomnia

Dr. Satya Joewana
Psikiater, Rumah Sakit Ketergantungan Obat , Jakarta
 
PENDAHULUAN
Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang paling sering dijumpai baik pada pasien dengan maupun tanpa gangguan psikiatrik. Menurut penelitian di luar negeri, 70% pasien psikiatrik yang dirawat di rumah sakit menderita insomnia. Di Inggris, 15% pasien yang mengunjungi dokter keluarga menderita insomnia. Prevalensi insomnia meningkat dengan bertambahnya usia. Insomnia lebih sering dijumpai pada wanita daripada pria.
 
DEFINISI
Insomnia adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak dapat tidur seperti yang ia harapkan, atau suatu ketidak mampuan yang patologik untuk tidur.
Terdapat tiga tipe insomnia:
1. Tidak dapat atau sulit masuk tidur (insomnia inisial) :
Keadaan ini sering dijumpai pada ansietas pasien muda, ber-langsung 1 - 3 jam dan kemudian karena kelelahan ía tertidurjuga.
2. Terbangun tengah malam beberapa kali: pasien ini dapat masuk tidur dengan mudah tetapi setelah 2-3 jam terbangun lagi, dan ini terulang beberapa kali dalam satu malam.
3. Terbangun pada waktu pagi yang sangat dini (insomniaterminal): pasien ini dapat tidur dengan mudah dan tidur dengancukup nyenyak, tetapi pagi buta sudah terbangun lalu tidak dapat tidur lagi. Keadaan ini sering dijumpai pada keadaan depresi.
 
EPIDEMIOLOGI
Mc Ghie dan Russell meneliti 2500 orang di Skotlandia yangmeliputi berbagai golongan, tingkat usia dan tingkat sosial.Mereka mendapatkan bahwa orang yang merasa tergolongbertemperamen nervous (gugup) juga merasa kurang tidur.Penelitian di berbagai negara menunjukkan hasil bahwa wanita lebih sering mengalami insomnia daripada pria (2 : 1). Di Skotlandia, 45% dari wanita yang berusia lebih dari 75 tahunmempunyai kebiasaan makan obat tidur secara teratur. PenelitianMc Ghie dan Russell tersebut di atas terhadap 400 orang berusia15 - 24 tahun, 5% diantaranya mengalami insomnia. Padapenelitian di Jakarta tahun 1988 terhadap 2500 siswa SLTPNegeri, sekitar 31% mengaku sering susah tidur.
 
SEBAB-SEBAB INSOMNIA
Tidak semua insomnia didasari oleh adanya suatu kondisipsikopatologik. Insomnia dapat pula disebabkan karena kondisiatau penyakit fisik dan karena faktor ekstrinsik seperti suara ataubunyi, suhu udara, tinggi suatu daerah, penggunaan bahan-bahanyang mengandung stimulansia susunan saraf pusat.
 
1. Suara atau bunyi: biasanya orang dapat menyesuaikan dengansuara atau bunyi sehingga tidak mengganggu tidurnya. Yangpenting sering bukan intensitasnya tetapi makna dan suara itu.Misalnya seorang yang takut diserang atau dirampok, pada malam hari ia terbangun berkali-kali hanya karena suara yang halus sekalipun. Bila intensitas rangsang cukup tinggi maka Arousal Promoting System akan membangunkan kita.
 
2. Suhu udara : kebanyakan orang akan berusaha tidur pada suhu udara yang menyenangkan bagi dirinya. Bila suhu udara rendah ia memakai selimut, bila suhu tinggi ia memakai pakaian tipis. Insomnia sering dijumpai di daerah tropik.
 
3. Tinggi suatu daerah: Insomnia merupakan gejala yang seringdijumpai pada mountain sickness, terjadi pada pendaki gunungyang lebih dan 3500 meter di atas permukaan laut. Hipoksiahipobanik dapat mempengaruhi Sleep Promoting System secaralangsung. Demikian juga nafas yang lebih cepat merupakantambahan rangsang terhadap Arousal Promoting System.
 
4. Penggunaan bahan-bahan yang mengandung stimulansia
susunan saraf pusat : Insomnia dapat terjadi karena penggunaanbahan-bahan seperti kopi yang mengandung kafein, tembakau yang mengandung nikotin dan obat-obat pengurus badan yangmengandung amfetamin atau yang sejenis.
 
5. Penyakit jasmani tertentu: misalnya arteriosklerosis, tumorotak, demensia presenil, tirotoksikosis, Sindrom Cushing, demam, kehamilan normal trimester ketiga, rasa nyeri, diabetes melitus, ulkus duodeni, artritis reumatika, cacing keremi pada anak, tuberkulosis paru yang berat, penyakit jantung koroner
tertentu.
 
6. Penyakit psikiatrik : beberapa penyakit psikiatrik ditandaiantara lain dengan adanya insomnia seperti pada gangguan afektif, gangguan neurotik, beberapa gangguan kepribadian, gangguan stres pasca-trauma dan lain-lain.
 
PSIKOPATOLOGI INSOMNIA
1. Depresi Berat (Psikosa Depresi): Seringkali ditandai denganadanya insomnia walau ada pula kasus depresi berat yang ditandai dengan hipersomnia, di samping gejala-gejala lain seperti afek yang disforik, hilangnya minat atau rasa senang, perasaan sedih, murung, putus asa, rasa rendah diri, anoreksia, berat badan turun, gerakan serba lambat, kurang bisa konsentrasi, pikiran tentang mati atau bunuh diri.
2. Episode Manik (Psikosa Manik): Ditandai antara lain denganadanya afek yang meningkat, peningkatan aktivitas dalampekerjaan, hubungan sosial maupun seksual, banyak bicara, pikiran terbang (flight of ideas), grandiositas dan insomnia karena kebutuhan tidurnya berkurang.
3. Gangguan Skizofrenik (Skizofrenia): Tidak semua penderitagangguan skizofrenik mengalami insomnia. Pada tipe furor katatonik, gangguan skizofreniform (episode skizofrenik akut) atau pada skizofrenika tipe paranoid dengan waham kejar dan halusinasi berupa kejaran dapat terjadi insomnia.
4. Gangguan Cemas Menyeluruh (Neurosa Ansietas): Ditandaidengan ketegangan motorik sehingga tampak gemetar, nyeri otot, lelah, tak dapat santai, hiperaktivitas saraf otonom berupa banyak berkeringat, berdebar-debar, rasa dingin. tangan yang lembab, mulut kering, pusing, rasa kuatir berlebihan, sukar konsentrasi dan insomnia.
5. Gangguan Distimik (Neurosa Depresi): Sering ditandai dengan adanya insomnia atau sebaliknya yaitu hipersomnia, disamping gejala depresi lainnya walaupun tidak seberat padaDepresi Berat. Tidak ada ciri-ciri psikotik.
6. Gangguan Kepribadian Sikiotimik (Afektif): Baik pada periode depresif maupun periode hipomanik dapat dijumpai adanya insomnia, walaupun pada periode depresif dapat pula terjadi hipersomnia.
7. Gangguan Stres Pasca-trauma: Sesudah mengalami suatutrauma psikologik yang pada umumnya berada di luar batas batas pengalaman manusia yang lazim terjadi, seringkali di jumpai penumpulan reaksi terhadap dunia luar, pengurangan hubungan dengan dunia luar, disertai gambaran penyerta berupa depresi dengan insomnia, kecemasan, kesulitan berkonsentrasi, emosi labil dan nyeri kepala.
8. Gangguan Penyesuaian: Sering diwarnai afek depresi atau afek cemas misalnya pada culture shock.
9. Delirium: Pada delirium kadang-kadang dijumpai gangguansiklus tidur-bangun, berfluktuasi dan biasanya berlangsung untukwaktu yang singkat saja, dapat berupa insomnia atau hipersomniaatau berfluktuasi di antara keduanya.
10. Sindroma Putus Zat: Insomnia sering kali merupakan gejalayang cukup menonjol pada sindroma putus zat misalnya padasindroma putus opioida, sindroma putus alkohol. dan sindromaputus sedativa-hipnotika.
11. Intoksikasi Zat: Pada penyalahgunaan zat sering tenjadi keadaan intoksikasi yang ditandai antara lain dengan insomnia,misalnya pada intoksikasi kokain, amfetamin, dan PCP.
12. Sindroma Postkontusio : Sesudah mengalami kontusio.orang sering mengalami insomnia di samping nyeri kepala pusing dan perasaan lelah.
13. Faktor psikik yang mempengaruhi kondisi fisik :Misalnya nyeri psikogenik, poliuria psikogen, pruritus psikogenik.
14. Mimpi buruk.
15. Mendengkur.
 
RINGKASAN
Telah diuraikan bahwa insomnia dapat merupakan gejala dari berbagai kondisi psikopatologik, namun tidak boleh dilupakansebab-sebab lain seperti penyakit jasmani dan faktor ekstrinsik seperti suara, suhu udara dan ketinggian suatu daerah.

No comments:

Post a Comment