Sunday, December 12, 2010

Inilah Pulau Bersejarah yang Terlupakan di Indonesia




Pada masa kolonial Belanda, rakyat sekitar menyebut pulau ini adalah Pulau Kapal karena sering sekali dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju Batavia. Di dalam pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda dan juga sebuah rumah yang masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust. Di pulau ini terdapat pula sebuah makam yang konon kabarnya makam dari pemimpin pemberontakan DI/TII yaitu Kartosoewirjo.

Pulau Onrust merupakan salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta yang letaknya berdekatan dengan Pulau Bidadari. Nama 'Onrust' diambil dari bahasa Belanda yang artinya 'Tidak Pernah Beristirahat' atau dalam bahasa Inggrisnya 'Unrest'.

Sejak penjajahan bangsa Belanda di Indonesia, Pulau Onrust menjadi pulau yang sangat strategis sekaligus sangat sibuk. Onrust yang memiliki nama lain sebagai Pulau Kapal memang senantiasa sibuk disinggahi kapal-kapal VOC. Selain itu Pulau Onrust menjadi markas Belanda yang penting untuk menyerang daratan Jakarta.

Seiring berkurangnya pengarush Inggris di Hindia Belanda, pada tahun 1848, Belanda masuk kembali ke Pulau ini dan difungsikan sebagai Pangakalan Angkatan Laut. Namun pada tahun 1883, sarana prasarana yang telah dibangun oleh belanda kembali hancur berat akibat gelombang Tidal letusan gunung Krakatau.

Pada tahun 1911 - 1933, Pulau Onrust diubah fungsinya sebagai Karantiana Haji. Masyarakat Indonesia pada saat itu yang akan naika haji ke Mekah dikarantina terlebih dahulu di pulau ini baik ketika pergi maupun sepulangnya. Hal ini merupakan taktik dari Belanda untuk menekan pengaruh ulama-ulama pada masa itu. Belanda tahu bahwa pergoalakan/pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada saat itu karena dipengaruhi oleh besarnya kharismatik ulama dimata rakyatnya.

Pada awal masa kemerdekaan, Pulau Onrust dimanfaatkan sebagai rumah sakit Karantina bagi penderita penyakit menular dan penyakit kusta/lepra dibawah pengawasan Departemen Kesehatan hingga awal tahun 1960. Para penderita penyakit lepra saat ini ditampung di RS Sintahala Tangerang.

Selain itu pulau ini juga pernah dimanfaatkan sebagai penampungan gelandangan dan pengemis dan juga latihan militer. Tahun 1968 pulau Onrust dijarah habis-habisan sehingga banguan bersejarah lenyap menyisakan puing-puing saja.

Setelah peristiwa tersebut, pulau Onrust menjadi sepi tidak sesuai lagi dengan namanya. Walaupun sekarang pulau ini sepi, jejak-jejak kesibukasnnya masih bisa ditelusuri. Beberapa bangunan masih tersisa dan masih dimanfaatkan sebagai penginapan. Sisanya adalah bekas-bekas fondasi bangunan yang menyisakan kepiluan yang menyesakan. Untuk melestarikan peninggalan sejarah yang terdapat di pulau ini maka berdasarkan kekputusan Gubernur KDKI Jakarta No. Cb. 11/2/16/1972 Pulau Onrsut dinyatakan sebagai pulau bersejarah yang dilindungi. Kemudian melalui SK Gubernur DKI Jakarta 134 tahun 2002 taman Arkeologi Pulau Onrust ditetapkan sebagai UPT di lingkungan Dinas kebudayaan dan Permusiuman DKI.

Face Climbing

Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau ronga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan.

Daftar Binatang Langka Indonesia

Daftar binatang langka di Indonesia semakin panjang. Binatang (hewan) langka merupakan spesies yang memiliki resiko akan punah baik punah di alam liar (extinct in the wild) ataupun sepenuhnya punah (extinct). Hewan-hewan dinyatakan langka berdasarkan rasio jumlah spesies (populasi) dan berdasarkan daerah persebaran (habitat). Di Indonesia, binatang-binatang langka semakin banyak.

Hewan (binatang) ini menjadi langka dan terancam kepunahan akibat perubahan kondisi alam, hewan pemangsa dan juga akibat perburuan yang dilakukan manusia.

Daftar Nama Binatang Paling Langka. Berikut daftar binatang dari kelas mamalia yang paling langka di Indonesia berdasarkan jumlah spesies (populasi) dan status konservasi yang diberikan oleh IUCN Redlist sebagai critically endangered (kritis).
1. Badak jawa satwa paling langka di duniaBadak Jawa (Rhinocerus sondaicus). Binatang endemik pulau Jawa dan hanya terdapat di TN. Ujung Kulon ini merupakan binatang paling langka di dunia dengan jumlah populasi hanya 20-27 ekor.
2. Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Populasi badak sumatera hanya 220-275 ekor (2007), bahkan menurut International Rhino Foundation (Virginia) diperkirakan populasi badak sumatera tidak mencapai 200 ekor (2010).
3. Macan Tutul Jawa atau Macan Kumbang (Panthera pardus melas). Subspesies ini populasinya kurang dari 250 ekor.
4. Rusa Bawean (Axis kuhlii) Binatang langka endemik pulau Bawean dengan populasi antara 250-300 ekor (2006).
5. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Subspesies harimau ini populasinya tinggal 400-500 ekor.
6. Beruk Mentawai (Macaca pagensis). Satwa endemik dan langka dari Kepulauan Mentawai, populasinya antara 2.100-3.700 ekor.
7. Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Binatang langka ini populasinya sekitar 7.300 ekor (2004).
8. Simpei Mentawai (Simias concolor). Endemik Kepulauan Mentawai. Populasi 6.000-15.500 ekor (2006).
9. Kanguru Pohon Mantel Emas (). Endemik Papua, populasinya N/A.
10. Kanguru Pohon Mbaiso atau Dingiso (Dendrolagus mbaiso). Endemik Papua Indonesia
11. Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra). Kera langka dari Maluku dan Sulawesi dengan populasi sekitar 100.000 ekor.

Binatang Langka Lainnya. Selain 11 binatang paling langka di Indonesia di atas, masih terdapat hewan-hewan langka lainnya yang oleh IUCN Redlist dimasukan dalam status konservasi “endangered” (terancam punah), satu tingkat di bawah kategori “critically endangered”. Binatang-binatang tersebut antara lain (diurutkan berdasarkan abjad nama Indonesia):

1. Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis)
2. Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi)
3. Ajag (Cuon alpinus)
4. Banteng (Bos javanicus)
5. Bekantan (Nasalis larvatus)
6. Gajah Sumatera (Elephant maximus sumatranus)
7. Gibbon Kalimantan (Hylobates muelleri)
8. Gibbon Kalimantan White-bearded Gibbon (Hylobates agilis)
9. Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis sumatraensis)
10. Kanguru Pohon Goodfellow (Dendrolagus goodfellowi)
11. Kucing Merah (Pardofelis badia)
12. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus)
13. Kuskus (Phalanger alexandrae)
14. Lutra Sumatra (Lutra sumatrana)
15. Macan Dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis)
16. Macan Dahan Sumatera (Neofelis diardi diardi)
17. Monyet Sulawesi (Macaca maura)
18. Musang Air (Cynogale bennettii)
19. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)
20. Owa Jawa (Hylobates moloch)
21. Paus Bersirip (Balaenoptera physalus)
22. Paus Biru (Balaenoptera musculus)
23. Siamang (Hylobates klossii)
24. Siamang (Symphalangus syndactylus)
25. Tapir Asia (Tapirus indicus)
26. Trenggiling (Manis javanica)
27. Ungko (Hylobates agilis)
28. Wau-wau (Hylobates lar)


Informasi lebih lengkap tentang masing-masing spesies dari dalam binatang langka di Indonesia dapat dibaca dengan meng-klik tautan (link) yang tersedia atau dapat dicari di halaman Daftar Catatan.

Referensi: www.iucnredlist.org dan berbagai sumber lainnya

Friday, December 10, 2010

JALUR GUNUNG SUMBING-SINDORO

Jalur Gunung Sumbing

· Ada dua jalur yang bisa kita gunakan, yaitu Jalur Cepit (Desa Pager Gunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung), dan Desa Garung yang lebih dekat dengan jalur ke Gunung Sumbing.

· Untuk akses ke jalur Garung, kita bisa lewat dari Magelang ke Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kali Kajar, Wonosobo, Jawa Tengah (waktu tempuh dengan minibus sekira 1,5 jam).

· Dusun Garung – Desa Butuh adalah salah satu dusun terakhir yang menjadi entry point menuju puncak Gunung Sumbing, yaitu Puncak Buntu dengan ketinggian 3371 mdpl.

· Di dusun ini terdapat Pos Pendakian Gunung Sumbing dengan ketinggian sekira 1.543 mdpl. Jika terlalu sore atau malam, para pendaki biasanya menginap di pos ini atau di tempat Kepala Desa. Para pendaki juga mengisi penuh persediaan air dari pos ini.

· Dari Pos Pendakian ada dua jalur, masih disebut jalur baru dan jalur lama. Jalur lama, walau jarak dan waktu tempuhnya lebih dekat, sekarang agak jarang digunakan karena sering terjadi longsor.

· Jalur baru dan lama ini hanya beda satu punggungan dan saling bertemu sebelum sampai di Pucak Buntu.

· Melalui jalur baru, pendaki akan melewati ladang tembakau (kawasan Boswisen) – kawasan bukit Genus (kondisi jalan: tanah liat dan tanah merah berpasir) – Sedelupak Roto (kondisi jalan: tanah liat dan tanah merah berpasir) – kawasan Pestan (jalur pertemuan antara jalur baru dan jalur lama, kondisi jalan: penuh rerumputan dan pohon-pohon kecil) – Pasar Watu (kondisi jalan: jalannya menanjak dan berbatu) – Watu Kotak (ketinggian sekira 2.700 mdpl, kondisi jalan: tanah merah dan berbatu) – Puncak Buntu.

· Waktu tempuh pada umumnya untuk mendaki bisa mencapai 8 jam perjalanan dan untuk turun bisa mencapai waktu 5 jam perjalanan. Itu semua tergantung kondisi tim dan cuaca.


Jalur Gunung Sindoro

· Entry Point ke Puncak Sindoro ada dua jalur yang saya tahu, yaitu jalur Arjosari (Desa Sikatok) yang dapat ditempuh dengan angkutan umum Temanggung-Wonosobo dilanjutkan dengan angkutan umum Wonosobo-Arjosari. Jalur lainnya adalah Desa Kledung.

· Jalur yang dekat dengan Gunung Sumbing adalah melalui Desa Kledung.

· Di jalur pendakian ini pendaki akan melewati Watu Gede, Situk, Watu Tatah, dan puncak Sindoro.

· Pendaki yang lebih memilih menghapal dengan angka biasanya akan melakukan pembagian seperti ini: Pos I (1900 mdpl) – Pos II (2120 mdpl) – Pos III (2530 mdpl) – Pos IV/Pos Bayangan (Pos Ijin – Pos IV biasa ditempuh sekira 6 jam) – Kawah Mati – Puncak Sindoro (biasa ditempuh sekira 2 jam). Ketinggian Puncak Sindoro sekira 3150 mdpl.

3 Langkah Agar Tidak Mudah Lupa Nama Orang

Seiring proses penuaan, kemampuan otak untuk menyimpan memori akan terus menurun hingga akhirnya pikun. Salah satu gejalanya adalah mudah melupakan nama-nama orang yang pernah dikenal. Ada 3 langkah untuk melatih ingatan tentang nama seseorang.

Interaksi dengan banyak orang sering membuat ingatan tentang nama orang mudah terhapus atau tertukar. Dalam keseharian mudah ditemui beberapa orang dengan nama atau wajah hampir sama, sehingga semakin sulit untuk mengingat-ingat dengan benar siapa namanya.

Pakar aging (penuaan) sekaligus direktur Center of Aging di University of California, Los Angeles (UCLA), Gary Small mempunyai cara ampuh agar otak lebih mudah mengingat nama orang. Dikutip dari MSN Health, Jumat (10/12/2010), cara itu terbagi menjadi 3 langkah yakni Look, Snap and Connect.

Langkah 1: LOOK
Perhatikan benar-benar (look) dan fokuskan pandangan pada wajah seseorang yang akan diingat namanya.

Langkah 2: SNAP
Buat bayangan visual (snapshot) tentang nama dan wajahnya berdasarkan karakteristik yang menonjol, misalnya telinga agak lebar, hidung mancung, rambut ikal dan sebagainya. Boleh juga membayangkan kata atau benda lain yang berhubungan dengan nama orang tersebut misalnya kucing (cat) untuk mengingat Mr Katz, atau kertas tagihan (bill) untuk Mr Bill.

Langkah 3: CONNECT
Langkah ketiga adalah menghubungkan (connect) 2 langkah sebelumnya, yakni membuat bayangan yang benar-benar berhubungan dengan penampilan fisik atau hal lain yang mencirikan orang yang akan diingat namanya.

Misalnya untuk mengingat seseorang bernama Agus dengan ciri khas rambut tipis, ingat-ingatlah sebagai Agus yang kepalanya Agak Gundul Sedikit. Atau ingatlah Angela Shirnberger sebagai seorang perempuan bernama Angela yang sepatunya selalu mengkilap (shirny) dan senang makan hamburger.

Jika sudah berhasil mengingat nama orang, maka ingatan itu harus sering-sering digunakan agar tidak cepat lupa. Psikiater dari University of Wisconsin, Ken Robbin menyarankan untuk sesering mungkin menggunakannya saat bercakap-cakap.

Semakin sering mengucapkan nama seseorang, semakin melekat nama itu di dalam ingatan. Karena itu usahakan untuk menyebutkan nama dalam perbincangan dan kurangi penggunaan kata ganti seperti kamu, anda atau dia.

STANDAR NAVIGASI

Peralatan dan perlengkapan Standar Navigasi darat

Sebagai penunjang dalam bernavigasi, khususnya navigasi darat selain harus dapat memanfaatkan tanda-tanda alam (legend) kita juga harus dapat memahami serta menggunakan peralatan penunjang navigasi. Peralatan tersebut diantaranya,

1. Kompas
2. Altimeter
3. Protektor
4. Alat tulis dan jangan lupa
5. Peta

STANDAR NAVIGASI

Peralatan dan perlengkapan Standar Navigasi darat

Sebagai penunjang dalam bernavigasi, khususnya navigasi darat selain harus dapat memanfaatkan tanda-tanda alam (legend) kita juga harus dapat memahami serta menggunakan peralatan penunjang navigasi. Peralatan tersebut diantaranya,

1. Kompas
2. Altimeter
3. Protektor
4. Alat tulis dan jangan lupa
5. Peta

Navigasi Darat ada 3 buah utara

Dalam Navigasi Darat ada 3 buah utara yang dipakai, yaitu :
a. Utara sebenarnya (US)
Mengarah ke kutub & sesungguhnya menggambarkan gris lintang dunia
b. Utara peta (UP)
Biasanya digambarkan sebagai garis vertikal ke atas pada lembar peta. Arah utara ini hasil proyeksi garis bujur dan garis lintang dunia pada bidang datar yang berbentuk dalam pola koordinat (grid)
c. Utara Magnetis (UM)
Jarum kompas tidak tepat menunjuk ke arah utara sehingga perputaran bumi pada sumbunya merupakan perubahan kutub magnetis yang disebut variasi magnetis (VM)

MEMBUKA TABIR KEINDAHAN SURGAWI WAKATOBI


(Kemenhub, data pelaporan & informasi 2010) Dibandingkan tiga pusat penyelaman dunia ternama seperti Karibia dan Laut Merah, Wakatobi memiliki jumlah spesies terumbu karang dan hewan laut yang berkali lipat lebih banyak. Sedikitnya ada 942 spesies ikan dan 750 spesies terumbu karang—dari total 850 terumbu karang yang ada di Indonesia—terkandung di wilayah kabupaten di Sulawesi Tenggara ini. Namun, minimnya sarana transportasi masih menjadikan Wakatobi sebagai surga indah dunia yang ”tersembunyi”.


Berada pada koordinat 5.00°–6.25° LS dan 123.34°–124.64° BT di selatan garis khatulistiwa, wilayah yang terkenal dengan sebutan Kepulauan Tukang Besi ini resmi berdiri sendiri sebagai wilayah administratif di Provinsi Sulawesi Tenggara pada 18 Desember 2003. Berarti, tak lama lagi wilayah yang sebelumnya adalah bagian dari Kabupaten Buton tersebut akan merayakan hari jadinya yang ke-7.

Meski memiliki 142 pulau yang tersebar di area seluas total 1,39 juta hektare, penduduk Wakatobi yang saat ini mencapai 100.563 jiwa hanya menghuni tujuh pulau di antaranya. Empat dari tujuh pulau berpenghuni itu merupakan pulau utama yang mendasri pembentukan nama Wakatobi. Keempat pulau itu adalah Wangi-wangi yang didaulat sebagai ibu kota kabupaten, Kaledupa, Tomia dan Binongko.

Wakatobi dibentuk berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2003, dengan jumlah penduduk saat itu sebanyak 91.497 jiwa yang tersebar di delapan wilayah kecamatan (Binongko, Kaledupa, Liya, Timu, Togo, Tomia, Wangi-Wangi, Wangi-Wangi Selatan) dan 61 desa/kelurahan. Tercatat, luas wilayah daratan di kabupaten ini mencapai 823 kilometer per segi dan luas wilayah perairan sekitar 18.377 kilometer per segi. Tak hanya berstatus sebagai sebuah wilayah administratif, Wakatobi yang memiliki keanekaragaman hayati laut dengan skala dan kondisi karang yang menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia, juga dinobatkan Menteri Kehutanan sebagai Taman Nasional pada tahun 1996.

”Dibandingkan tiga pusat penyelaman dunia yang sangat terkenal seperti Karibia atau Laut Merah, Wakatobi yang terdiri dari 97 persen wilayah laut dan 3 persen darat, jauh lebih kaya. Di Karibia hanya ada 15 spesies terumbu karang, sementara Laut Merah hanya 300 spesies. Tetapi Wakatobi punya 750 spesies dari total 850 terumbu karang di Indonesia, ditambah 942 spesies ikan,” papar Bupati Wakatobi Hugua, ketika ditemui tim redaksi TransNews, awal November 2010.

Dunia internasional, menurut Hugua, telah mengenal akrab Wakatobi terbentuknya pemerintahan kabupaten yang mandiri. Wakatobi yang 97 persen wilayahnya merupakan perairan ini menjadi salah satu surga bawah laut dunia yang masiuk dalam daftar wajib dikunjungi, terutama oleh para penyuka wisata bawah laut. Tak heran, hal itu mengingat Wakatobi memiliki sekurangnya 100 titik penyelaman utama yang sangat menakjubkan dengan panorama berbeda yang tersebar pada area seluas 90.000 hektare dari total 118 ribu hektare terumbu karang yang ada.

Di Pulau Wangi-Wangi misalnya, terdapat 18 titik penyelaman utama yang dapat dijelajahi para pecinta panorama bawah laut. Titik-titik selam itu antara lain Kapotadive, Wahadive I-III, Patuno Gate, Patunodive, Arokadive, Karang Gurita, Tanjung Kapota, Kapota Gate, Kptkr 1-3, Wanci Gate, Wandokadive, Oogudive, Biradive, serta Sombudive. Kemudian di Kaledupa atau yang juga dikenal dengan nama Pulau Hoga, tersebar 25 titik penyelaman incaran. Antara lain Buoy 1-5, Pak Kasim, Baby Batish, Inner Pinnacle, Outer Pinnacle, Ridge 1-2, Coral garden, Aquarium, Blue Hole, North Wall 1-2, Sampela Buoy 1-2, Kaledupa Buoy 1- 2, Kaledupa Double, Turkey Beach, Conchta, Zoo, dan  Barracuda.

Sementara Pulau Tomia, memiliki lebih banyak titik penyelaman utama yang jumlahnya mencapai 48 titik, di mana sebagian besar titik telah mendunia. Mereka adalah RR&R, Teluk Maya, Traiblazzer, Tanjung Lintea, Pockets, Fan 36 East, Fan 36 West, Spiral Corner, Magnitica, Comuoopia, Batfish Wall, Fan Garden, Starship, Gallery, Pinkys Wall, Black Forest, Lorenzos Delight, Pastel, Inka Palette, Brians Choice, Channel, Tanjung Balok, Dunia Baru, Waitii Ridge, Table Coral City, Teluk Waitii, Kolo Soha Beach, Roma, Marimabuk, Gunung Waha, Ali Reef, Bel Valley, Waha Top, Kulati, Blade, Coral Hill, Pintu Timur, Mermaid, Fish Wall, Cavern Wall, Ndaa Light House, Ndaa Drop Off, Ndaa Selatan, House Reef, Anano, Rundumadive, serta Kr dive.

”Kalau di Binongko, ada sembilan titik utama penyelaman. Yaitu Koromahadive 1 dan 2, Cowodive, Kentioledive, serta  Koko dive 1 hingga Koko dive 5. Tetapi, secara keseluruhan, alam Wakatobi sangat layak untuk dinikmati dari titik manapun,” jelas Hugua.

Atas dasar itulah, hingga saat ini, para turis-turis asing yang berasal dari pelbagai penjuru dunia itu secara rutin dan bergelombang mendatangi Wakatobi. Mereka bahkan rela ”antre”  antara 6 bulan hingga satu tahun lamanya dan mengeluarkan biaya tinggi hanya untuk mengeksplorasi kekayaan alam Wakatobi selama 7 hari. Para turi asing itu begitu ikhlas merogoh kocek dalam-dalam untuk menebus sensasi di pusat segitiga karang dunia ini.

”Kalau dikonversi ke rupiah, tarif yang dipasang agen wisata mereka mencapai antara 35-40 juta per orang untuk 7 hari kunjungan. Sedangkan masa tunggu paling cepat dalam waiting list adalah 6 bulan. Kalau normalnya, rata-rata baru bisa berangkat setahun setelah mendaftar,” rinci Hugua. Dari sekian banyak turis mancanegara yang datang, sebutnya, pengunjung terbanyak adalah warga negara-negara Eropa seperti Belanda maupun Inggris.

Bagaimana dengan turis domestik? Hugua menyayangkan, hingga saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum familiar dengan nama Wakatobi. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih sebatas mengenal Bunaken di Manado ataupun Raja Ampat di Papua sebagai objek wisata bawah laut. Dia menyadari bahwa minimnya sosialisasi turut berkontribusi terhadap ”keterasingan” Wakatobi di negara sendiri.

”Dari total wisatawan yang masuk, jumlah turis domestik yang datang ke sini tak mencapai setengahnya. Itu pun tidak seluruhnya datang untuk mengeksplorasi alam laut Wakatobi secara total. Berbeda dengan wisatawan asing, yang memang benar-benar datang dengan ketertarikan utama untuk melakukan penyelaman,” ujar Hugua.

Namun belakangan, seiring dengan maraknya publikasi yang dilakukan media massa terutama televisi dan gencarnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah daerah, ketenaran Wakatobi kian terangkat ke permukaan. Pola kunjungan pun perlahan meningkat. Kebanyakan wisatawan lokal yang datang saat ini tidak lagi sebatas menikmati keindahan alam di atas permukaan laut yang berisi pemandangan alam darat yang asri, maupun pesisir pantai berair jernih yang bertabur pasir putih nan jernih. Meski tidak menyelam, aktivitas snorkling alias menerawang terumbu karang dan biota laut dari permukaan air dengan berbekal kacamata renang dan alat bantu pernapasan tanpa tabung oksigen yang dilakukan pengunjung lokal sudah mulai banyak.

Peran Besar Sarana Transportasi

Hugua menyebutkan, sektor pariwisata adalah salah satu sumber PAD terbesar wilayahnya. Jumlah wisatawan yang datang ke Wakatobi saat ini sudah mencapai angka10 ribu hingga 12 ribu per tahun. Jumlah itu telah mengalami peningkatan drastis semenjak  dioperasikannya Bandar Udara Matahora di Pulau Wangi-Wangi pada 2009 silam. Kendati baru berusia setahun, Bandara Matahora telah mampu mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor wisata hingga 21 persen dari tahun sebelumnya yang rata-rata hanya berkisar 14 persen, menjadi 35 persen dari.

Sebelum Bandara Matahora yang berstatus terbuka untuk umum dioperasikan, jumlah wisatawan yang datang ke Wakatobi hanya berkisar 3.000-an orang per tahun. Sebelumnya, turis datang menggunakan kapal wisata pribadi maupun pesawat charter melalui bandara khusus milik salah satu resort yang dikelola asing di Tomia. Pada jalur reguler saat itu, transportasi udara yang tersedia baru mencapai wilayah tetangga seperti Kendari maupun Bau Bau. Sehingga untuk akses langsung ke Wakatobi hanya dapat dicapai melalui jalur laut dengan menggunakan kapal-kapal kayu berkecepatan rendah dari Pelabuhan Bau Bau yang berjarak sekitar 88 mil maupun Pelabuhan Kendari yang berjarak 129 mil dengan waktu tempuh antara 8-14 jam pelayaran.

”Selain kapal-kapal kayu itu, ada kapal Pelni yang singgah ke Wakatobi sekali dalam sebulan, datang dan pergi. Kapal ini melayani rute Surabaya-Papua (pp),” jelas Hugua. Waktu tempuh melalui jalur laut yang relatif lama ini yang membuat minimnya minat wisawatan lokal berlibur ke Wakatobi, sementara waktu yang mereka punya terbatas. Tetapi sekarang, wisawatan bisa mengakses langsung pulau ini melalui jalur udara yang jauh lebih cepat dari mana saja. Namun, saat ini baru satu maskapai yang membuka penerbangan langsung ke Wakatobi, yaitu Express Air, dengan frekuensi rata-rata dua kali sehari.

Berdasarkan catatan TransNews, penerbangan langsung dari Jakarta menuju Wakatobi ditempuh dalam waktu total sekitar 5 jam dengan dua kali transit, yaitu di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan Bandara Bau-Bau. Penerbangan dari Jakarta (Soekarno-Hatta) menuju Makassar ditempuh selama 2 jam 10 menit. Kemudian dari Makassar menuju Bau-Bau, ditempuh selama 45 menit, dan dari Bau-Bau ke Wakatobi  selama 25 menit. Untuk membawa penumpang dari Jakarta ke Makassar, Express Air menggunakan pesawat pesawat jenis Boeing 737-300 yang berkapasitas 130-an penumpang. Sedangkan dari Makassar menuju Bau-Bau dan Wakatobi, penerbangan diteruskan dengan menggunakan pesawat berbadan kecil jenis Dornier 328 yang berkapasitas 30-an penumpang. Hal itu mengingat Bandara Matahora yang memiliki landasan pacu sepanjang 1400 meter belum diizinkan untuk didarati pesawat berbadan lebar.

Saat ini Pemkab Wakatobi tengah melakukan penambahan landasan pacu sepanjang 600 meter lagi agar bisa didarati pesawat lebih besar sehingga kian membuka keterisoliran wilayah. Ditargetkan, akhir 2010 ini runway Matahora dibangun secara swadaya oleh Pemkab Wakatobi itu sudah mencapai 2000 meter, sehingga pesawat sekelas ATR 72-500 bisa mendarat. ”Untuk jangka panjang, kami menargetkan Matahora punya runway hingga 3000 meter. Itu karena kami optimistis Wakatobi di masa mendatang akan dan harus menjadi ikon wisata baru Indonesia yang akan menjadi idola wisatawan baik mancanegara maupun lokal. Dengan pengembangan bandara ini, kami menargetkan 25 ribu kunjungan wisawatan pada 2012,” ungkap Hugua.

Tidak hanya Bandara, lanjut dia, Pemkab Wakatobi juga mengupayakan untuk menambah fasilitas infrastruktur transportasi darat dan laut. ”Untuk darat, kami sedang melakukan peningkatan terhadap akses jalan. Kami akui, saat ini fasilitas transportasi darat masih minim. Angkutan umum reguler masih sangat sedikit sekali, sehingga masyarakat masih mengandalkan  kendaraan pribadi. Sementara wisatawan, mengandalkan kendaraan sewaan,” ujar Hugua.

Sementara untuk laut, dengan membangun pelabuhan feri berkapasitas besar untuk mengurangi beban Pelabuhan Laut Pelabuhan Pangulu Belo Mandati milik Pemerintah Pusat yang dikelola Unit Satuan Kerja Direktorat  Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. ”Resort-resort juga kita dongkrak untuk tumbuh,” imbuhnya.

Sebelum Matahora berdiri, Pelabuhan Pangulu Belo Mandati yang juga berada di Pulau Wangi-Wangi menjadi gerbang utama keterhubungan Wakatobi dengan dunia luar, baik dengan Kawasan Timur Indonesia (KTI) maupun Kawasan Barat Indonesia (KBI). Namun, sejalan dengan perubahan masa, daya tampung Pangulu Belo Mandati yang hanya dilengkapi dermaga sepanjang 70 meter itu tak lagi mencukupi.

Terlepas dari keberadaan Matahora, bagi daerah yang dikelilingi laut seperti Wakatobi, keberadaan pelabuhan laut menjadi sangat vital. Karena untuk menghubungkan wilayah satu dengan daerah lain menjadi sebuah keharusan. Posisi Pelabuhan Pangulu Belo Mandati juga menjadi titik penghubung antara pulau-pulau kecil yang ada di Kepulauan Tukang Besi itu.

”Kami berharap ada pengembangan yang dilakukan terhadap Pelabuhan Pangulu Belo Mandati. Minimal bisa dua kali lipat lebih panjang, menjadi 140 meter,” ungkap La Ode Sungkuarso, kepala Satuan Kerja Pelabuhan Wakatobi (Pangulu Belo Mandati) yang menginduk pada Kantor Pelabuhan Bau Bau. Tak hanya dermaga, fasilitas pendukung lain sepertinya juga sangat dibutuhkan pelabuhan ini. Salah satunya adalah terminal penumpang. Sebagaimana terpantau TransNews, di pelabuhan tersebut memang terdapat sejumlah bangunan dengan kondisi yang jauh dari standar kelaikan untuk dikatakan sebagai bagian dari fasilitas pelabuhan.

La Ode menambahkan, untuk kegiatan operasional pengawasan keselamatan pelayaran dan patroli laut, pihaknya sama sekali tak memiliki sarana yang cukup. Tak jarang dia dan sejumlah staf harus menyewa kapal masyarakat dengan uang pribadi untuk memeriksa kapal yang dicurigai dan berlabuh di tengah laut. ”Kalau untuk berpatroli keliling wilayah, kami hanya punya doa, berharap semoga tidak terjadi apa-apa. Dulu kami pernah punya satu radio, tetapi sudah hilang dicuri. Saat ini, tidak  ada fasilitas pendukung operasional yang kami punya selain meja dan kursi di kantor ini. Kami juga tidak bisa mengandalkan fasilitas Kanpel Bau-Bau, karena di sana juga minim fasilitas. Satu-satunya kapal patroli yang ada pun rusak,” pungkasnya.

Dengan keterbatasan tersebut, La Ode mengaku kerap kewalahan ketika Wakatobi kebanjiran pengunjung asing yang membawa kapal pribadi. Seperti ketika hajatan besar sekelas Sail Banda 2010 lalu digelar, sedikitnya 80 unit kapal asing berlabuh di perairan Wakatobi. ”Tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa. Untungnya tidak ada hal negatif yang terjadi,” lanjut dia.

Hugua juga mengungkapkan hal senada perihal kondisi Pangulu Belo Mandati. Dia sangat mengharapkan dukungan Pemerintah Pusat dan para wakil rakyat di Senayan untuk mengembangkan infrastruktur utama Wakatobi tersebut. ”Karena Pangulu Belo itu aset pusat. Kami mengharapkan dukungan maksimal dari Pemerintah Pusat juga para wakil rakyat di gedung DPR terhadap visi kami untuk mengembangkan Wakatobi baik sebagai wilayah administratif maupun Taman Nasional yang mengandalkan eco-wisata. Kami ingin Wakatobi jadi cagar biosfir dunia. Tanpa dukungan semua pihak, itu tidak mungkin kami lakukan,” cetusnya. (TIM)

Nah tunggu apalagi, yuk kita liburan ke negara sendiri yang ngga kalah indah sama luar negeri :-)

Thursday, December 2, 2010

MACAM MACAM ANGIN

Angin lokal
1. angin darat dan angin laut........ Angin darat dan angin laut terjadi akibat adanya perbedaan sifat antara daratan dan lautan dalam menyerap dan melepaskan energi panas matahari. Daratan menyerap dan melepas energi panas lebih cepat daripada lautan.
2. Angin gunung dan angin lembah
Angin lembah terjadi ketika matahari terbit, puncak gunung adalah daerah yang pertama kali mendapat panas dan sepanjang hari selama proses tersebut, lereng gunung mendapat energi panas lebih banyak daripada lembah. Sehingga menyebabkan perbedaan suhu antara keduanya. Udara panas dari lereng gunung naik dan digantikan dengan udara dingin dari lembah. Akibatnya terjadi aliran udara dari lembah menuju gunung. Sedangkan pada sore hari lembah akan melepaskan energi panas dan puncak gunung yang telah mendingin akan mengalirkan udara ke lembah. Aliran udara tersebut dinamakan angin gunung.
3. Angin Ribut/Puyuh
Puting beliung dapat terjadi dimana saja, di darat maupun di laut dan jika terjadi di laut durasinya lebih lama daripada di darat. Angin ini umumnya terjadi pada siang atau sore hari, terkadang pada malam hari dan lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba). Luas daerah yang terkena dampaknya sekitar 5 – 10 km, karena itu bersifat sangat lokal.

masih banyak lagi angin lokal yang lain.. yang dinamakan sesuai nama daerah asal angin tersebut (arah angin bertiup) bisa di lihat di :


>angin musim (angin moonsoon/monsun)
1. Angin Monsun Asia
Angin ini berhubungan dengan angin baratan yaitu angin yang berasal dari daratan Asia menuju wilayah Indonesia, dengan membawa uap air lebih banyak dari biasanya, sehingga sebagian wilayah Indonesia bagian Selatan Katulistiwa sering banyak hujan atau bertepatan dengan musim hujan di Indonesia.
Ketika matahari berada di sebelah Utara Katulistiwa, maka daerah di Belahan Bumi Utara mempunyai suhu udara yang panas dengan tekanan udara cenderung rendah. Sehingga arah pergerakan angin dari Belahan Bumi Utara (daratan Asia) menuju Belahan Bumi Selatan (daratan Australia) dan angin tersebut biasanya berasal dari arah barat menuju timur. Kondisi ini biasa dikenal orang sebagai angin barat.
2. Angin Monsun Australia
Angin ini berhubungan dengan angin timur yaitu angin yang berasal dari daratan Australia. Ketika matahari berada di Belahan Bumi Selatan, maka Belahan Bumi Selatan mempunyai suhu yang panas dan tekanan udara yang tinggi maka pergerakan angin dari Belahan Bumi Selatan (daratan Australia) menuju Belahan Bumi Utara (daratan Asia).