Thursday, June 2, 2011

Cerita dari Maluku

Maluku: Indonesia dalam Ukuran (Tak Terlalu) Kecil

Ketika diminta juri program Aku Cinta Indonesia (ACI) oleh Detik.com untuk memilih provinsi di Indonesia yang ingin dikunjungi, dengan mantap saya bilang: Maluku.

Ya. Saya selalu terinspirasi dengan kemampuan dan keuletan saudara-saudara kita yang tinggal di pulau-pulau kecil atau terpencil dalam berjuang hidup di tengah kerasnya alam. Maluku, sebagai provinsi dengan 559 pulau – terbanyak di Indonesia – terbukti selalu menarik untuk didatangi.

Dalam waktu tiga bulan – akhir Januari hingga pertengahah April 2011 – saya diberi tiga kali kesempatan untuk mengunjungi Ambon – ibu kota Maluku – dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Tak terlalu banyak yang saya lihat dibandingkan yang ditawarkan provinsi kepulauan ini. Di luar cita-cita saya, ketiga kunjungan super singkat ini lagi-lagi membuka mata: Indonesia itu beragam.

Maluku adalah Indonesia dalam ukuran (tak terlalu) kecil: manusia dan keberagamannya. Jadi, tak seperti berita-berita tak mengenakkan beberapa tahun terakhir, nampaknya kita perlu berita dan cerita yang meneguhkan kembali kalaukeberagaman adalah ikon Indonesia sesungguhnya.

Dan keberagaman ini juga yang bikin saya ogah mengucap Amatooo (Selamat Jalan)...

Kaos Singlet dan Celana Selutut

Teman saya di Jakarta – keturunan Ambon – sering berbagi cerita tentang mudahnya membedakan orang Ambon dari pakaiannya. “Kaos singlet, celana jeans selutut dan bisanya kalung rantai berbandul salib ukuran besar,” ujarnya sembari terkekeh.

Dan itu pula lah yang saya temui ketika sore itu, 26 Januari 2011, masuk ke kota Ambon. Udara yang panas dan gerah sering jadi alasan. Buat saya, suasana penuh keakraban dan easy-going nya orang Ambon nampaknya lebih menggambarkan ‘seragam’ laki-laki Ambon itu.

Walau didapuk sebagai kota terbesar kedua di kawasan Indonesia Timur, Ambon tak setergesa-gesa seperti Makassar apalagi Jakarta. Terlepas dari kendaraan yang sering mandek di jalan-jalan sempit berkontur dan satu arah, kota ini tetap menawarkan detak kehidupan yang lebih santai.

Island living. Hammock. Ukulele. Sibu-sibu1. Apalagi yang lebih cocok dikenakan selain kaos singlet dan celana santai selutut?

Ikan Bakar dan Colo-Colo: (Nikmatnya) Terbawa Mimpi

Seperti saya duga, tak sulit mencari makanan laut di Kota Ambon. Sayang memang, tak banyak tempat makanan laut yang sempat saya sambangi. Beberapa yang akhirnya saya jadikan referensi – tanpa berpromosi – adalah ‘kakak-adik’ Ratu Gurih dan Sari Gurih.

Keduanya berlokasi di pusat kota. Sebagai ‘adik’, Sari Gurih ber-setting lebih bersahaja, ‘ngumpet’ di jalan lebih sempit, dan lebih ramah dengan kantong. Ratu Gurih dengan gagah ‘nangkring’ di salah satu jalan utama Kota Ambon; senantiasa mengusik penciuman siapapun yang melintasinya.

Soal menu dan kualitas makanan, tak banyak beda. Selain ikan bakar, cobalah kepiting saus padang di Ratu Gurih. Sausnya sering diintai sebagai after-taste, pamungkas tepat menutup santap siang atau malam.

Uniknya, makanan laut paling berkesan yang saya rasakan di Kota Ambon ternyata di Pantai Santai, Latuhalat. Lobster sebesar-besar paha bayi manusia akhirnya sukses meluncur ke perut dan mematahkan kegalauan saya. Kenapa? Ya. Saya lihat sendiri bagaimana lobster-lobster itu ‘dipanen’ dari sarangnya, di kedalaman puluhan meter di bawah laut.

Setahu saya, lobster memang bukan spesies terancam. Tapi, melihat – dan mendokumentasikan – ‘pembantaian’ mereka sembari menyelam siang harinya sempat bikin saya dihantui mimpi dicapit lobster raksasa malam harinya. Benar juga kata orang, kalau sedang makan, jangan pikir bagaimana makanan itu didapat atau dibuat.

Baiknya memang lobster ini dimakan langsung di tempat seperti Sari Gurih atau Ratu Gurih. Ditemani colo-colo2, nikmatnya makanan laut Kota Ambon tak perlu menyandera diri hingga terbawa mimpi.

Musik, Joget dan ... Sopi

Seperti masyarakat lain di Indonesia Timur, orang Ambon – dan sekitarnya – identik dengan musik dan joget. Tak hanya di tempat hiburan, di pinggir jalan, di tempat makan, di atas ferry hingga di pasar menunggu pelanggan, dimana ada musik, di situ pasti ada keriaan. Nyanyi dan joget dua hal yang patut hadir. Yang ketiga? Sopi.

Saya tidak asing dengan minuman beralkohol hasil fermentasi tanaman keluarga palem (kelapa, aren, atau lontar) ini. Sopi adalah jawaban cepat untuk menghangatkan suasana, menjembatani kekakuan hingga alat diplomasi. Terlepas fungsinya, efek sopi memang dahsyat.

Satu malam di Saparua – satu jam naik kapal cepat dari Ambon – saya larut dengan pemuda-pemuda lokal ditemani sopi. Awalnya kami cuma ngobrol ngalor ngidul (baca: nyanyi-nyanyi), joget-joget hingga akhirnya mereka mabuk.

Hari sudah menjelang pagi. Selain kota yang memang sunyi, tak banyak orang lalu-lalang lagi. Konon, efek sopi membuat (justru!) yang tidak minum lari ketakutan, menghindari pukulan atau senjata tajam peminumnya. Dengan saya, pemuda-pemuda ini anehnya tak menunjukkan tanda-tanda bahaya. (Oya, saya sudah pelajari teknik menghindari mabuk sopi, makanya bisa bikin tulisan ini J)

Pukul setengah tiga pagi, kamar penginapan saya digedor-gedor. Saya pikir mimpi, ternyata pemuda-pemuda tadi sukses terkapar di luar. Mereka ingin numpang tidur di kamar saya. Untunglah pegawai penginapan berhasil ‘mengusir’ mereka baik-baik.

Sebelum melanjutkan tidur, pegawai penginapan itu menyindir saya, “Hati-hati bergaul dengan preman ... dan sopi.”

Sibu-Sibu dan Joas: Santai Saja, Bung!

Setahu saya – dan setelah dikonfirmasi staf Dinas Pertanian Provinsi Maluku – Maluku bukan penghasil kopi. Tapi, di  Kota Ambon, minuman paling populer (err, setelah sopi tentunya) adalah kopi. Nongkrong di warung-warung kopi sudah jadi ritual banyak warga kota.

Beberapa di antaranya adalah Kedai Kopi Tradisional Joas dan Walang Kopi Sibu-Sibu. Kopi memang jadi andalan utama kedua kafe ini. Makanan kecil seperti sukun goreng, kasbi tone, koyabu, porces dan bruder sageru jadi pelengkapnya. Uniknya, jauh sebelum ada gerai-gerai kopi modern, sesungguhnya suasana santai dan ngobrol ngalor ngidul lah yang dicari pengunjungnya.

Berjarak hanya beberapa puluh meter di badan jalan yang sama, dua tempat minum kopi ini paling sering saya kunjungi untuk melepas lelah. Uniknya, tak hanya ngobrol, meeting hingga diskusi sering terlihat di kedua tempat ini. Anggota DPRD, pekerja LSM hingga pegawai pemerintahan sering terlihat nongkrong di kedua tempat ini, terutama lepas jam kantor.

Saya bahkan sempat melirik dan menguping sebuah golden shake ditemani senyum lebar dua orang yang akhirnya saya ketahui anggota DPRD Kota Ambon dan seorang kontraktor dari Jakarta. Wah!

Teringat kebiasaan saya di Jakarta, kafe adalah ruang meeting saya. Ternyata, jauh sebelum ada kafe-kafe moderen, Sibu-Sibu, Joas dan deretan warung kopi di jalan-jalan Kota Ambon telah lebih dulu jadi tempat bersantai atau bekerja dengan santai.

Pilih sendiri.

Kisah Dua Saudara

Sungguh berat memulai tulisan satu ini. Membuka luka yang belum kunjung sembuh, mengorek kesedihan yang tak juga sirna dan membangunkan trauma yang masih penuh mengisi udara. Kerusuhan 1999 masih terpatri jelas di setiap sendi kehidupan warga Ambon.

Malam pertama di Kota Ambon, saya ngobrol dengan seorang teman baru sembari menyantap nasi kuning di Jalan AM. Sangadji. Pemuda duapuluh dua tahun di depan saya ini nampak resah. Sekali-sekali ia menoleh ke kiri-kanan, bahkan ketika sedang bicara. Tak jarang ia membalikkan badan mencari sumber suara-suara ramai di seberang jalan.
“Ini bukan daerah saya, mas,” begitu jawabnya ketika ditanya. “Sejak kerusuhan (tahun 1999), saya jarang ke tempat ini kecuali terpaksa.”

Walau berat dan tak nyaman, mengalirlah cerita sendu betapa kerusuhan menoreh luka teramat dalam. Ia dan keluarganya terpaksa pindah rumah karena menjadi Kristen di BatuMerah sama dengan menaruh leher di bawah pisau yang siap menebas kapan saja.
Cerita yang tak jauh beda dialami seorang teman yang terpaksa terpisah secara fisik dari ayahnya hanya karena mereka berbeda agama. Padahal, mereka tak pernah punya masalah sebelumnya.

Ya, kini sebagian besar daerah (desa, kelurahan bahkan sepotong jalan) di Kota Ambon punya label tak tertulis: Islam atau Kristen. Walau intensitasnya semakin berkurang, keengganan berada apalagi tinggal di daerah ‘yang bukan semestinya’ masih terasa.

Pengalaman traumatis ini nampaknya tak akan segera sirna. Tak sedikit LSM dan badan-badan dari luar Ambon berusaha mempercepat rekonsiliasi. Salah satunya adalah Ambon Bergerak. Komunitas ini diprakarsai oleh teman baru saya, Ipank.

Perdamaian tidak hanya lewat seremonial dan tugu peringatan. Ipank yakin, anak muda Ambon yang asertif dan terbuka adalah kunci untuk mengobati trauma ini. Dan lewat kegiatan kreatif lah, anak-anak muda ini dapat membuktikan kalau perbedaan (baca: keragaman) jadi modal, bukan penghalang.

Hari terakhir saya di Ambon jatuh tepat di hari Jumat Agung. Tak terlihat banyak keramaian di kota ini, hingga Subuh esok harinya, rombongan jemaat berduyun-duyun menuju gereja mereka. Saya jadi terbawa memori setahun sebelumnya, ketika menyaksikan Semana Sancta di Larantuka, Nusa Tenggara Timur.

Terhanyut suasana, saya mengirimkan twit ke teman saya yang terpisah keluarganya tadi. “Di Larantuka, Paskah dijaga pemuda mesjid. Begitu juga, IdulFitri dijaga pemuda gereja. Kapan ya di Ambon bisa seperti itu?”

(Calon) Metropolis dari Timur

Di sore terakhir saya di Ambon, jalan-jalan di sekitar penginapan saya dilanda kemacetan total. Segala macam jenis kendaraan mengisi tiap jengkal aspal jalan: mobil, truk, oto (angkutan umum), motor hingga becak. Di sebuah persimpangan bahkan tercipta posisi kunci. Tak tertarik dengan pemandangan ini, saya mempercepat langkah menuju kamar berpendingin udara.

Ambon makin macet. Begitu yang sering saya dengar dari teman-teman baik penduduk asli maupun pendatang yang lama tinggal di kota ini. Posisi kota yang terjepit laut dan bukit curam sayangnya tak menandakan masa depan yang lebih baik.

Bahkan, berita buruknya: tanpa solusi yang baik, kesemrawutan Ambon akan segera menyusul Jakarta dengan kecepatan jauh lebih tinggi.

Memang, bukit-bukit menjulang yang memeluk kota telah diberdayakan sebagai lokasi pembangunan dan pemukiman. Daerah-daerah seperti Halong atau Kudamati bahkan menawarkan pemandangan cantik dengan rumah-rumah menghiasi punggung bukit. Tapi cobalah berkendara di jalan-jalan curam di kedua daerah ini dan rasakan sensasi menginjak rem tanpa henti, melawan gravitasi terlalu tinggi.

Di sisi lain Teluk Ambon, pemandangan terlihat lebih berbeda. Passo, daerah padat lalu lintas, terkenal akan kemacetan akibat bertemunya kendaraan dari penjuru pulau Ambon. Daerah di ‘leher’ sempit pulau Ambon ini memang sangat strategis. Sebegitu strategis hingga seorang developer yang saya temui dalam penerbangan menuju Jakarta bergurau, 

“Sayangnya, orang Ambon nggak ngelihat ini. Jadi, kenapa nggak saya yang bangun?” Ngomong-ngomong, pengusaha Jakarta ini adalah pemilik mal di Passo yang akan dibuka Agustus ini dan konon bakal jadi yang paling besar di seluruh Maluku.

Ah, lagi-lagi saya harus bertemu dengan kapitalis dari Ibu Kota yang pintar melihat peluang. “Orang Ambon itu hobi belanja. Jadi, saya bangun tempat supaya mereka bisa puas belanja,” ujar pengusahanya sembari terkekeh.

sumber: endrocn.wordpress.com

No comments:

Post a Comment